Tanah Air Rasa Malaysia di Entikong

Setyo Aji Harjanto, CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 09:23 WIB
Tanah Air Rasa Malaysia di Entikong Warga di perbatasan Indonesia-Malaysia, Desa Gun Tembawang, Entikong, Kalimantan Barat. (CNN Indonesia/Setyo Aji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak sedikit warga perbatasan yang memilih untuk berganti kewarganegaraan. Hal itu terjadi di Dusun Gun Tembawang, Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Kepala Dusun Gun Tembawang Marselus Gaut mengungkapkan dari sekitar 400 lebih warganya, setengahnya sudah menjadi warga negara Malaysia.

Dusun Gun Tembawang berbatasan langsung dengan Malaysia. Jarak antara Gun Tembawang dengan Kampung Speed, Malaysia hanya sekitar 6 Kilometer.


"Warga 200 lebih pindah . Kalau enggak pindah ke Malaysia mungkin 300 hingga 400 jiwa. Lebih dari setengah ke Malaysia," ujar Marselus saat ditemui di Dusun Gun Tembawang, Sanggau, Selasa (30/10).


Bahkan beberapa sanak keluarganya sendiri juga banyak yang sudah menjadi menjadi warga negara Malaysia. Dari 10 bersaudara, hanya dia dan empat saudaranya yang masih setia pada merah putih.

'Eksodus' warga Gun Tembawang ke Malaysia bukan tanpa alasan. Minimnya perhatian pemerintah dan kurangnya fasilitas penunjang di desa mereka menjadi penyebab utamanya.

Akses jalan yang sangat minim menjadi salah satunya yang paling dikeluhkan warga setempat. Untuk menuju ke Kecamatan Entikong dibutuhkan waktu tiga sampai empat jam menggunakan jalan darat dan sungai. Itu pun dengan catatan cuaca tidak hujan. Apabila cuaca hujan waktu tempuhnya bisa mencapai dua kali lipat.

Dari Gun Tembawang warga harus melewati jalan perbukitan selama kurang lebih dua jam menuju Dusun Palapasang untuk naik sampan. Sepanjang jalan ke Palapasang mereka harus berjibaku dengan jalan tanah selebar kurang lebih dua meter yang berliku, menanjak, dan menurun serta kondisi jalan yang berlumpur apabila hujan.


Tak jarang motor yang mereka gunakan tersangkut di antara lumpur apabila kondisi jalan becek sehabis terkena hujan.

Sepanjang jalan darat itu, mereka juga harus melewati 20 jembatan kayu selebar yang hanya berukuran 30 centimeter. Setelah tiba di dusun Palapasang mereka harus menaiki sampan untuk menyusuri Sungai Sekayam selama satu jam menuju Dusun Mangkau.

Dari Dusun Mangkau mereka melanjutkan perjalanan darat selama satu jam menuju ke Kecamatan Entikong.

"Ongkosnya itu tergantung, kalau kita sewa atau carter itu ndak ada bawa barang Rp500 ribu pulang-pergi, kalau bawa barang lain ceritanya," tutur Marselus.

Cerita dari Pebatasan: Lebih Senang Jadi Warga MalaysiaInfrastruktur yang buruk di Desa Gun Tembawang, Entikong, Kalbar. (CNN Indonesia/Setyo Aji)


Selain akses jalan yang tidak memadai, minimnya fasilitas kesehatan, pendidikan, dan minimnya lapangan pekerjaan juga menjadi alasan warga Gun Tembawang memilih berganti kewarganegaraan.

Bahkan untuk fasilitas pendidikan hanya ada satu, yakni Sekolah Dasar yang hanya tersedia untuk tingkatan Sekolah Dasar (SD). Sekolah tersebut terletak di Dusun Gun Jemak.

"Sekolah ada, cuma tenaga gurunya semuanya masih honorer," kata Marselus.


Sementara itu untuk fasilitas kesehatan tidak ada sama sekali. Apabila ada warga yang sakit mereka harus berobat ke Malaysia karena jarak yang ditempuh lebih dekat.

"Kalau ada yang sakit mendadak, harus ke Malaysia. Karena akses dekat, cuma biaya mahal," tambahnya.

Untuk urusan lapangan pekerjaan, masyarakat desa lebih banyak menjadi petani dan kerja di ladang atau kebun. Namun hasil taninya dijual ke Malaysia. Beberapa hasil kebun yang terlaris adalah sahang, terung asam, jahe, cabe, dan bawang kucai.

Pokoknya apa yang berharga kami jual ke Malaysia," tutur dia.


Kendati begitu dia dan sisa warga yang tak mempan dirayu kehidupan yang lebih baik di negeri jiran mengkau tetap bangga menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Ia justru mengkritik Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat yang malah tidak merasa kalau mereka adalah bagian dari warga negara Indonesia.

Maka tak heran jika banyak warganya yang berpindah kewarganegaraan dan hijrah ke negeri jiran untuk menjalani hidup yang lebih baik.

"Pemda tak mengerti kami anak Indonesia, maka kami tak punya jalan, sekolah. Kalau orang bilang Indonesia sudah merdeka, kami ndak pernah rasa merdeka. Mungkin sampai akhir zaman, Gun Tembawang ini masih seperti ini. Maka jangan heran, orang Gun ini banyak yang pindah dan senang jadi warga Malaysia," sesalnya.

(DAL)