Gerindra: Politik 'Genderuwo' Jokowi Bikin Suasana Mencekam

CNN Indonesia | Jumat, 09/11/2018 15:59 WIB
Gerindra: Politik 'Genderuwo' Jokowi Bikin Suasana Mencekam Wakil Ketua Gerindra Arief Poyuono. (CNN Indonesia/Galih Gumelar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono menyebut pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal 'politik genderuwo' sangat berlebihan. Arief menantang Jokowi untuk menyebut nama politikus yang memakai 'politik genderuwo' menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

"Kalau Kangmas Joko Widodo enggak langsung tunjuk nama dan politikus yang suka pakai politik Genderuwo ,malah Kangmas Joko Widodo yang pake politik genderuwo dong," kata Arief kepada CNNIndonesia.com, Jumat (9/11).
Arief menilai pernyataan Jokowi soal 'politik genderuwo' justru salah satu strategi kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu untuk menciptakan suasana yang seakan-akan mencekam di tengah masyarakat menjelang pesta demokrasi lima tahunan.

"Ucapan politik genderuwo itu sebagai bentuk strategi Kangmas Joko Widodo untuk menciptakan suasana seakan-akan mencekam di masyarakat jelang Pilpres 2019," ujarnya.


"Kangmas Joko Widodo karena takut kalah kali," kata Arief menambahkan.

Arief mengklaim selama berkeliling ke Pulau Jawa, dia tak menemukan masyarakat yang takut maupun khawatir sampai terjadi konflik menjelang Pilpres 2019. Menurut dia, pihak-pihak yang kerap menyampaikan perpecahan di masyarakat adalah Jokowi dan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf.

"Coba buktikan Ada enggak konflik di masyarakat jelang pilpres, sudah ada belum misalnya peristiwa bentrok antar masyarakat. Kan enggak ada sampai saat ini," tuturnya.
Sebelumnya, Jokowi meminta masyarakat tak terpengaruh oleh politikus yang suka menakut-nakuti. Politikus yang menakut-nakuti itulah yang Jokowi sebut sebagai 'politikus genderuwo'.

Hal itu disampaikan Jokowi saat pidato pembagian sertifikat tanah untuk masyarakat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11/2018).
"Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya 'politik genderuwo', nakut-nakuti," kata dia. (fra/dea)