Strategi Door-to-Door Jokowi Hadapi Pilpres 2019

CNN Indonesia | Senin, 12/11/2018 06:26 WIB
Strategi <i>Door-to-Door </I> Jokowi Hadapi Pilpres 2019 Presiden Joko Widodo. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden petahana RI Joko Widodo (Jokowi) akan menggunakan strategi komunikasi langsung (door-to-door) untuk memenangkan hati masyarakat Indonesia dalam ajang pemilihan presiden 2019. Ia meyakini, 90 persen hingga 95 persen kampanye terbilang efektif dengan cara komunikasi langsung kepada masyarakat.


Jokowi menilai kampanye dengan spanduk dan baliho dianggap sudah tidak efektif. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyebut, saat ini yang penting adalah menjelaskan hasil-hasil kerjanya secara nyata kepada masyarakat.

"Yang diperlukan saat ini adalah door-to-door, menjelaskan kepada masyarakat. Dari pintu ke pintu, jelaskan, silaturahmi dengan masyarakat. Komunikasi dengan masyarakat, mendekat dengan masyarakat," ujar Jokowi saat di Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (10/11).




Menurut Jokowi, salah satu kebijakan yang perlu dijelaskan kepada masyarakat adalah komitmen pemerintah dalam mengalokasikan anggaran bantuan sosial. Hingga saat ini, 96 juta Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan 19,2 juta Kartu Indonesia Pintar (KIP) sudah disebar ke seluruh Indonesia. Tak hanya itu, penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) juga sudah menyentuh 10 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Tak hanya bantuan sosial, Jokowi juga ingin masyarakat tahu bahwa sertifikat lahan terus meningkat dari 5 juta sertifikat di tahun lalu ke angka 7 juta sertifikat di tahun ini. Bahkan, penerima sertifikat tanah di tahun depan juga naik mencapai 10 juta sertifikat.

Selain itu, Jokowi ingin masyarakat mengapresiasi dana desa yang anggarannya terus naik dari Rp20 triliun di 2015 menjadi Rp60 triliun di 2018. 

"Dari dana tersebut, ada yang jadi jalan desa, jembatan desa, akses air bersih, pendidikan anak usia dini, ada sumur, ada pasar desa ada embung. Contoh jalan desa, sudah jadi 90 ribu kilometer (km) jalan desa karena dana desa ini. Banyak sekali sebetulnya kalau kami bisa komunikasikan ini kepada rakyat dan masyarakat," ujar politikus PDIP tersebut.


Dengan komunikasi door-to-door, Jokowi ingin masyarakat paham bahwa program-program ini adalah besutan pemerintahannya. Ia sendiri sempat gemas lantaran program-program tersebut sempat diklaim beberapa kepala daerah.

"Program ini banyak yang mengklaim, dibilangnya bukan dari kami. KIS diklaim bukan dari kita di provinsi yang lain, ini harus disampaikan," imbuhnya.

Targetkan 60 Persen Kemenangan di Jawa Barat

Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma'ruf Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan kampanye door-to-door Jokowi diharapkan bisa meraup 60 persen suara di Jawa Barat tahun depan. Selain mengomunikasikan program Jokowi selama empat tahun terakhir, kampanye door-to-door juga dimanfaatkan untuk menangkal hoaks.

Selama ini, lanjut Dedi, citra Jokowi selalu diselimuti isu antek Partai Komunis Indonesia (PKI) hingga pro Tenaga Kerja Asing (TKA) yang tersebar di media sosial. Maka dari itu, tim pemenangan Jokowi akan "membalas" serangan itu dengan konten media sosial yang lebih positif.

"Seberat apapun hoaks di Jawa Barat ini kalau hasil pembangunan dirasakan mereka, mereka tidak akan pernah termakan," ujar pria yang gagal dalam kontestasi Pilgub Jabar 2018 tersebut.


Selain itu, kampanye Jokowi-Ma'ruf Amin di Jawa Barat akan fokus di Jawa Barat bagian selatan karena Jokowi menang suara di Jawa Barat bagian utara pada 2014 silam. Jika dulu Jokowi hanya menang di wilayah Cirebon, Indramayu, dan Subang, kini tim kampanye akan fokus ke Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Tasikmalaya.

"Cuma memang masih ada beberapa titik daerah yang sangat bersentuhan dengan Jakarta dan Banten, yang memang harus terus ditingkatkan. Kalau upaya mendorong ke arah itu dioptimalisasi, saya yakin tidak akan putus lagi pemilihnya," pungkas Dedi.

(glh/kid)