"Ya, mereka [Asia Sentinel] kemudian menyampaikan permintaan maaf, dan juga menarik berita yang mereka muat itu," kata Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan saat acara pembekalan caleg DPR RI dari Demokrat di Hotel The Sultan, Jakarta, Minggu (11/11) malam.
Demokrat memang sempat berseteru dengan Asia Sentinel setelah media berbasis di Hong Kong itu menerbitkan hasil laporan John Berthelsen berjudul Indonesia's SBY Government: 'Vast Criminal Conspiracy, 11 September lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laporannya Berthelsen juga menulis soal dugaan keterlibatan SBY selaku Ketua Demokrat dalam skandal pencurian uang hasil pajak sebesar 12 miliar dolar AS.
Investigasi dilakukan di tiga negara yaitu Hong Kong, Amerika Serikat, dan Mauritius selama kurang lebih 60 hari.
Dijelaskan Hinca dalam temuan investigasi terdapat beberapa hal yang tidak sinkron dan meyakinkan dalam laporan yang dipublikasi Asia Sentinel.
"Pemberitaan Asia Sentinel yang merujuk gugatan sengketa perdata murni ini dengan menyebut Presiden SBY dan Partai Demokrat terlibat kejahatan korupsi adalah fitnah," kata Hinca.
Laporan di Asia Sentinel itu sempat dipublikasi oleh sejumlah media di Indonesia. Demokrat pun sempat memperkarakan pemberitaan tersebut. Namun Hinca menegaskan Demokrat telah memaafkan media-media nasional yang turut mempublikasi laporan itu.
"Media Indonesia yang muat juga sudah selesai masalahnya. Sudah meminta maaf dan akui kesalahannya," kata dia. (tst/wis)