"Itu ide saya untuk bikin mata uang braille. Kami dapat aspirasi dari tunanetra ada banyak yang bekerja jadi tukang pijat di panti," kata Hashim, saat peluncuran buku 'Paradoks Indonesia' versi huruf braille di Media Center BPN Prabowo-Sandi, Jakarta, Jumat (16/11).
Namun, Bank Indonesia (BI), dikutip dari situs resminya, bi.go.id, diketahui sudah menghadirkan kemudahan bagi tunanetra untuk mendeteksi nominal uang sejak penerbitan uang kertas pecahan emisi 2004. Bentuknya, kode tunanetra atau blind code.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rinciannya, pertama, pecahan Rp20 ribu dengan blind code berupa dua buah empat persegi panjang yang semula tidak kasat mata (invisible) menjadi kasat mata dan terasa kasar bila diraba (cetak intaglio), terletak di samping kiri gambar utama pada bagian depan uang.
Ilustrasi tunanetra yang jadi juru pijat Asian Para Games 2018. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama) |
Pada 2016, Gubernur BI saat itu, Agus Martowardojo, memperkenalkan tujuh pecahan uang kertas emisi 2016 dengan desain blind code baru. Posisi kode itu ada di tiap sisi uang dan kasar jika diraba. Bentuknya, pasangan garis pendek dengan posisi agak miring dan berdekatan.
Pertama, pecahan Rp100 ribu, dengan sepasang garis. Kedua, pecahan Rp50 ribu, terdapat dua pasang garis. Ketiga, uang pecahan Rp20 ribu dengan tiga pasang garis arsir, keempat, pecahan Rp10 ribu dengan empat pasang garis yang berada di bagian pinggir bawah.
"Penentuan kode tunanetra pada pecahan uang kertas Rupiah dilakukan oleh Bank Indonesia melalui konsultasi dengan PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia)," demikian dikutip dari dokumen Cara Mudah Kenali Keaslian Rupiah Tahun Emisi 2016 yang diunduh dari laman BI.
Selain itu, disebutkan pula bahwa kode tunanetra itu merupakan amanat UU Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
Ilustrasi tunanetra yang jadi juru pijat Asian Para Games 2018. (