Soal Janji Uang Braille, BI Punya 'Blind Code' Sejak 2004

CNN Indonesia | Minggu, 18/11/2018 05:58 WIB
Soal Janji Uang Braille, BI Punya 'Blind Code' Sejak 2004 Uang baru emisi 2016 dengan blind code baru. (cnnindonesia/safirmakki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Isu kemudahan bagi penyandang disabilitas diusung oleh Direktur Komunikasi dan Media Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hashim Djojohadikusumo, lewat janji pencetakan mata uang braille jika menang di Pilpres 2019.

"Itu ide saya untuk bikin mata uang braille. Kami dapat aspirasi dari tunanetra ada banyak yang bekerja jadi tukang pijat di panti," kata Hashim, saat peluncuran buku 'Paradoks Indonesia' versi huruf braille di Media Center BPN Prabowo-Sandi, Jakarta, Jumat (16/11).

Namun, Bank Indonesia (BI), dikutip dari situs resminya, bi.go.id, diketahui sudah menghadirkan kemudahan bagi tunanetra untuk mendeteksi nominal uang sejak penerbitan uang kertas pecahan emisi 2004. Bentuknya, kode tunanetra atau blind code.


Dikutip dari siaran pers Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan masyarakat BI pada laman itu, 28 Oktober 2011, bank sentral kemudian melakukan perubahan terhadap tiga pecahan uang rupiah tahun emisi 2004 lewat penambahan tingkat kekasaran kode itu agar lebih mudah dideteksi tunanetra.

Rinciannya, pertama, pecahan Rp20 ribu dengan blind code berupa dua buah empat persegi panjang yang semula tidak kasat mata (invisible) menjadi kasat mata dan terasa kasar bila diraba (cetak intaglio), terletak di samping kiri gambar utama pada bagian depan uang.

Kedua, pecahan Rp50 ribu, dengan blind code berupa dua buah segi tiga yang semula tidak tampak menjadi kasat mata dan terasa kasar, terletak di samping kiri gambar utama pada bagian depan uang.

Tuna Netra Juru Pijat Asian Para Games 2018.Ilustrasi tunanetra yang jadi juru pijat Asian Para Games 2018. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama)
Ketiga, pecahan Rp100 ribu, dengan blind code berupa dua buah lingkaran yang semula invisible menjadi kasat mata dan terasa kasar, terletak di samping kiri gambar utama pada bagian depan uang.

Pada 2016, Gubernur BI saat itu, Agus Martowardojo, memperkenalkan tujuh pecahan uang kertas emisi 2016 dengan desain blind code baru. Posisi kode itu ada di tiap sisi uang dan kasar jika diraba. Bentuknya, pasangan garis pendek dengan posisi agak miring dan berdekatan.

Pertama, pecahan Rp100 ribu, dengan sepasang garis. Kedua, pecahan Rp50 ribu, terdapat dua pasang garis. Ketiga, uang pecahan Rp20 ribu dengan tiga pasang garis arsir, keempat, pecahan Rp10 ribu dengan empat pasang garis yang berada di bagian pinggir bawah.

Kelima, pecahan Rp5 ribu dengan lima pasang garis. Keenam, pecahan Rp2 ribu dengan enam pasang garis, dan pecahan Rp1.000 dengan tujuh pasang garis.

"Penentuan kode tunanetra pada pecahan uang kertas Rupiah dilakukan oleh Bank Indonesia melalui konsultasi dengan PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia)," demikian dikutip dari dokumen Cara Mudah Kenali Keaslian Rupiah Tahun Emisi 2016 yang diunduh dari laman BI.

Selain itu, disebutkan pula bahwa kode tunanetra itu merupakan amanat UU Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas.

(arh/arh)