Membaca Mimpi Prabowo Ikuti Jejak Swasembada Pangan Soeharto

CNN Indonesia | Rabu, 21/11/2018 13:09 WIB
Calon presiden Prabowo Subianto ingin mengulang prestasi Indonesia mewujudkan swasembada pangan. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kubu calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno membangkitkan kembali frasa 'swasembada pangan' yang sempat populer pada dekade 1980-an di bawah rezim Orde Baru.

Prabowo saat pidato pada deklarasi Komando Ulama Pemenangan Prabowo-Sandi (Koppasandi) di Jakarta, Minggu (4/11), mengutarakan niat mewujudkan swasembada pangan seperti dicapai rezim Orba tahun 1984.

Rencana Prabowo tersebut disambut oleh Titiek Soeharto, mantan istrinya yang juga putri pemimpin Orde Baru Presiden ke-2 RI Soeharto. Saat berkampanye untuk Prabowo-Sandi, Rabu pekan lalu, Titiek menyindir program pangan pemerintahan Jokowi.


Dia bahkan mengklaim prestasi swasembada pangan era Soeharto dapat terulang bila Indonesia dipimpin Prabowo-Sandiaga.

Nostalgia swasembada pangan itu sontak ramai diperbincangkan di ruang publik. Ada yang menganggap rencana tersebut cenderung utopis. Sementara tim pemenangan Prabowo-Sandi menyebut hal itu realistis.

"Kami tidak berjanji seperti janji yang tidak masuk akal dan tidak ditepati seperti yang dilakukan Pak Jokowi empat tahun lalu terkait setop Impor," kata Koordinator Juru Bicara tim Prabowo-Sandi Dahnil Anzar Simanjuntak kepada CNNIndonesia.com.

Iktikad Prabowo menerapkan swasembada pangan sebenarnya bukan barang baru. Rencana itu sudah termaktub dalam Visi Misi Empat Pilar Menyejahterakan Indonesia Adil Makmur yang diunggah di laman resmi KPU sejak September lalu.

Dalam bagian Pilar Kesejahteraan Rakyat poin 9, Prabowo-Sandi bertekad membangun ketersediaan pangan, energi, dan gizi. Kemudian dipertegas di bagian Program Aksi Kesejahteraan Rakyat poin 25.

"Mewujudkan swasembada pangan dengan mencetak 2 juta hektare lahan baru bagi peningkatan produksi pangan, terutama beras, jagung, sagu, kedelai, dan tebu," mengutip Program Aksi Kesejahteraan Rakyat poin 25 visi dan misi Prabowo Sandi yang diunggah di laman resmi KPU.

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Upaya mengulang swasembada pangan seperti Orde Baru mendapat peringatan dari juru kampanye nasional pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Eva Kusuma Sundari.

Menurut Eva, program swasembada pangan era Soeharto lebih banyak mudarat ketimbang manfaat. Salah satunya karena dilakukan di bawah tekanan rezim yang otoriter.

"Ada plusnya. Tapi, banyak minusnya karena dilakukan di bawah todongan senjata. Swasembada beras tapi tidak sustainable (berkelanjutan)," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Kelemahan lain adalah swasembada pangan era Orde Baru dimaknai secara sempit hanya sebagai swasembada beras. Padahal, menurut Eva, swasembada pangan tak melulu soal beras. Ada banyak bahan pangan lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

"Kan, masih ada bahan pangan non beras lain, seperti jagung, ubi, dan lainnya tak masuk (program itu)," ucap dia.

Eva menyatakan program itu lantas berdampak pada ketahanan pangan nonberas di Indonesia semakin memburuk karena masyarakat dipaksa untuk menanam beras.

Selain itu, ia menyebut kebijakan itu didanai utang luar negeri yang cukup besar, sehingga Pemerintah Indonesia masih harus menanggungnya sampai saat ini.

"Dalam swasembada yang menyebabkan ketahanan pangan non-beras jadi ambruk karena semua lahan dan penduduk di-beras-kan," kata Eva. (bmw/wis)
1 dari 2