Rekam Jejak Hercules, Tokoh Timor yang 'Besar' di Tanah Abang

CNN Indonesia | Kamis, 22/11/2018 10:58 WIB
Rekam Jejak Hercules, Tokoh Timor yang 'Besar' di Tanah Abang Hercules yang baru menjadi tersangka perusakan pernah dikenal sebagai tokoh perjuangan pro NKRI di Timor Timur sebelum sempat terjun 'dunia hitam' di Jakarta. (Detikcom/Hasan Alhabshy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polres Metro Jakarta Barat telah menetapkan Hercules Rozario Marshal sebagai tersangka perusakan. Tokoh asal Timor Timur (kini telah menjadi negara Timor Leste) itu ditangkap polisi di kediamannya, Kembangan, Jakarta Barat, Rabu (21/11) siang.

Kapolres Metro Jakarta Barat, Komisaris Besar Hengki Haryadi mengatakan Hercules diduga melanggar Pasal 170 KUHP terkait perusakan terhadap barang ataupun orang lain. Selain itu polisi pun masih menyelidiki apakah Hercules juga akan dijerat dengan Pasal 335 KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan.

"Karena ada paksaan psikis terhadap orang-orang yang ada di sana," kata Hengki.



Penangkapan Hercules bermula saat polisi menangkap sejumlah orang yang menguasai lahan di kawasan Kalideres, Jakarta Barat.

Orang-orang tersebut merasa menguasai lahan dan kerap meminta uang pada pemilik ruko. Dalam aksinya kelompok itu sering mengintimidasi dan melakukan perusakan.

Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Edi Suranta Sitepu menyatakan dalam penyidikan yang dilakukan mengerucut kepada Hercules sebagai aktor utama.

Semalam, polisi pun telah melakukan penggeledahan rumah Hercules yang berada di kompleks Kebon Jeruk Indah untuk mencari barang bukti.

Tokoh Timor Timur yang 'Besar' di Tanah Abang

Hercules memulai petualangannya di Jakarta setelah mengalami luka dalam konflik Timor Timur yang membuatnya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit militer pada 1987 silam.

"Saya penerima penghargaan Seroja dari pemerintah," kata Hercules yang pernah dikenal sebagai pejuang pro-NKRI pada masa konflik Timor Timur itu mengutip wawancara yang dilakukan detik.com pada 26 Februari 2012.

Setelah pulih, Hercules pun mengadu nasib di Ibu Kota. Perjuangan hidupnya membuat Hercules kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh di Tanah Abang. Dia kerap berurusan dengan persoalan hukum. Ia disebutkan berkuasa di pasar grosir sandang terbesar se-Asia Tenggara itu pada akhir 1997 silam.

Pada 2005, anak buah Hercules menyerang kantor surat kabar Indo Pos di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Atas penyerangan yang terjadi pada 20 Desember 2005 itu, PN Jakarta Barat menjatuhkan vonis dua bulan penjara kepada Hercules.


Hercules terjun ke 'dunia hitam' sebelum mengaku memutuskan tobat pada 2006 silam, dan memasuki dunia bisnis seperti kapal dan perikanan. Selain itu, ia kemudian ikut membangun organisasi kemasyarakatan (ormas) Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) dan menjabat ketua umum.

Selain itu, Hercules pun sempat terlibat dalam lembaga pendidikan yakni Saint Mary.

Pada 2014 silam, Pengadilan Negeri Jakarta Barat pernah menjatuhkan vonis tiga tahun penjara kepada Hercules. Dia dinyatakan bersalah serta terbukti melakukan tindak pidana pemerasan dan pencucian uang.

Hakim sepakat Hercules terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 368 KUHP tentang pemerasan dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Hercules terbukti melakukan pemerasan terhadap Sukanto Tjakra, Direktur PT Multi Tjakra Strategi. Hercules juga dinyatakan sengaja memanfaatkan labelnya sebagai preman untuk menakut-nakuti pengembang tersebut. Hal itu dia lakukan dengan maksud meminta uang dari korban.

Bukti pemerasan itu adalah penyerahan uang Rp200 juta sebagai jaminan agar Hercules bersama anak buahnya tidak lagi menghalangi pembangunan ruko dan apartemen oleh PT Multi Tjakra Strategi.

Dalam dunia politik, juga sebagai Ketum GRIB, Hercules menyampaikan dukungan kepada Prabowo Subianto di Pilpres 2014 lalu.

Mengutip dari wawancara yang dilakukan detik.com pada 2012 silam, Hercules mengatakan merasa dekat secara emosional dengan Prabowo terkait Operasi Seroja di Timor Timur. Operasi Seroja untuk menarik Timor Timur ke dalam bagian Indonesia itu berlangsung lebih dari delapan bulan (Desember 1975-Juli 1976).

Dalam operasi militer di Timor itu, Prabowo yang masih berusia 26 bertugas sebagai Komandan Pleton Grup I Para Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha).

Namun, tidak hanya kepada Prabowo saja, Hercules pun mengaku dekat dengan orang-orang yang sama-sama berjuang di Timor Timur.

"Jadi bukan hanya Prabowo saja. Tidak ada hubungannya dengan yang lain selain emosional," ujar Hercules kala itu.

(kid/dea)