Fahri soal Kabar Ahok ke PDIP: Silakan Bertarung Kembali

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 13:37 WIB
Fahri soal Kabar Ahok ke PDIP: Silakan Bertarung Kembali Politikus PKS Fahri Hamzah menyambut baik rencana Ahok menjadi kader PDIP. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Politikus PKS Fahri Hamzah mengaku sudah memprediksi mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akan bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) setelah yang bersangkutan selesai menjalani masa tahanan.

Fahri pun menyambut baik Ahok masuk kembali gelanggang politik. Namun dia mengingatkan agar Ahok tidak menjadi pendendam saat berkiprah di politik.

"Saya kira go a head, silakan bertarung kembali. Tapi jangan lupa politik ini pertarungan," ujar Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (27/11).


Kembalinya Ahok ke panggung politik diungkapkan oleh Djarot Saiful Hidayat, kemarin. Djarot adalah mantan Wakil Gubernur DKI mendampingi Ahok. 

Djarot yang juga menjabat Ketua DPP PDIP mengatakan saat bertemu Ahok, mantan Bupati Belitung Timur itu menyampaikan beberapa hal termasuk soal rencana menjadi anggota PDIP.

"Dia [Ahok] bilang, 'kalau nanti saya masuk politik, saya akan pasti masuk PDI-Perjuangan'," ujar Djarot.

Fahri sendiri menyatakan rencana Ahok bergabung dengan PDIP sudah terbaca sejak menjadi Wakil Gubernur dan Gubernur DKI Jakarta.

"Waktu dia jadi Wagub dan Gubernur garisnya sudah jelas," ujar Fahri.

Karier Politik Ahok

Politik bukan hal baru bagi Ahok. Dia tercatat pernah menjadi kader sejumlah partai. Pada 2004 Ahok adalah kader Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB).

Ahok berganti partai pada 2009, saat maju sebagai calon anggota legislatif DPR RI dari Golkar. 

Bersama Golkar dia menebus parlemen. Dari sana karier politiknya mulai meningkat dengan maju sebagai Wakil Gubernur DKI berpasangan dengan Joko Widodo pada 2012. Saat itu Ahok pindah ke Gerindra, sebagai salah partai pengusung di Pilkada.


Kariernya di Gerindra tak bertahan lama. Pada 2014 Ahok keluar dari partai besutan Prabowo Subianto itu. Ini dipicu oleh sikap Ahok yang tidak setuju dengan sikap Gerindra mendukung wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD. (jps/wis)