Lacak Kecelakaan Lion Air, KNKT Cari Data ke Malaysia

CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 19:14 WIB
Lacak Kecelakaan Lion Air, KNKT Cari Data ke Malaysia KNKT terus mengumpulkan data untuk mengungkap penyebab rusaknya komponen angle of attack (AOA). (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terus melacak sebab kerusakan dari komponen sensor Angle of Attack (AoA) yang diduga menjadi sebab jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP di perairan Karawang, Jawa Barat, 29 Oktober lalu.

Hal tersebut disampaikan investigator senior KNKT Ony Suryo Wibowo kepada para awak media usai konferensi pers kecelakaan penerbangan pesawat Lion Air JT-610 di Aula KNKT pada Kamis (29/11). AoA sendiri merupakan bagian dari sistem penunjuk kecepatan atau airspeed indicator Lion Air PK-LQP. Ini adalah indikator penunjuk pesawat terhadap aliran udara.

AoA tersebut diketahui sudah diganti saat sebelum Lion Air PK-LQP terbang dari Denpasar menuju Jakarta.


"Belum tahu [sebab kerusakan] AoA. Kami sedang lacak ke Lion, sedang kami minta [data AoA]. Karena barang ini selain dipakai Lion Air Indonesia, juga dipakai di Malaysia," kata Ony.

"Untuk itu, kami bekerja sama dengan Malaysia untuk mendapat datanya. Nanti mereka akan dapat hak khusus. Meski saya investigator negara, datang ke Malaysia, tidak bisa minta sembarangan. Kita harus saling berkomunikasi dengan otoritas setempat, itu protokolnya," katanya menambahkan.

Sebelumnya, KNKT menemukan airspeed indicator pesawat Lion Air PK-LQP bermasalah pada empat penerbangan terakhir, yakni Denpasar-Manado, Manado-Denpasar, Denpasar-Jakarta, dan Jakarta-Pangkalpinang.

Penunjuk kecepatan pesawat Lion Air PK-LQP sudah mengalami masalah sejak penerbangan Denpasar-Manado dan Manado-Denpasar. Teknisi lalu mengganti AoA sebelah kiri sebelum pesawat terbang dari Denpasar menuju Jakarta pada Minggu (28/10).

"[AoA] sudah diperbaiki, bukan spare part baru dari pabrikan. Tapi perbaikan dalam dunia penerbangan ada prosedur yang sangat ketat," ucap Ony.


"Setelah selesai dia [AoA] harus diuji, dikalibrasi, kemudian ada sertifikatnya. Kalau tidak ada sertifikatnya, tak boleh dipakai," tuturnya melanjutkan. (map/ptr)