Analisis

Reuni 212, Konsolidasi Politik Kubu Prabowo Jelang Pilpres

CNN Indonesia | Minggu, 02/12/2018 19:49 WIB
Reuni 212, Konsolidasi Politik Kubu Prabowo Jelang Pilpres Sejumlah tokoh politik di kubu Prabowo Subianto menghadiri Reuni Aksi 212. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Reuni Aksi 212 yang digelar di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (2/12) dinilai sebagai konsolidasi politik kubu Prabowo Subianto jelang pilpres 2019. Seruan 2019 ganti presiden juga menggema di acara tersebut.

Pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno mengatakan konsolidasi politik itu terlihat dari beberapa tokoh yang hadir serta isu yang digaungkan dalam acara Reuni Aksi 212.

"Yang hadir aktor-aktor, elite-elite yang lama, isunya juga lama, semangatnya yaitu untuk mengganti presiden," kata Adi kepada CNNIndonesia.com, Minggu (2/12).



Dalam reuni itu, diketahui sejumlah tokoh yang hadir antara lain calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan Fahri Hamzah, serta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Selain itu, hadir pula Wakil Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid, ditemani sekjen PKS Mustafa kamal, politikus Gerindra Ahmad Dhani, serta petinggi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean.

Dalam acara reuni tersebut, rekaman video pentolan FPI Rizieq Shihab juga diputar di hadapan massa. Rizieq menyampaikan kepada pendukungnya untuk tidak memilih capres yang diusung oleh partai yang pernah mengusung penista agama.


Hal itu, kata Adi, makin memunculkan pesan bahwa Presiden Joko Widodo sekaligus capres petahana di pilpres 2019 merupakan seorang pemimpin yang masih berjarak dengan umat Islam.

"Pesannya sederhana bahwa pemerintah saat ini, Pak Jokowi ingin dikesankan sebagai pemimpin yang tetap berjarak dengan umat Islam, kira-kira begitu narasinya," ujar Adi.

Reuni 212, Konsolidasi Politik Kubu Prabowo Jelang PilpresPresiden Joko Widodo menuju Monas saat Aksi 212 pada 2016. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Absennya Jokowi di acara Reuni Aksi 212 tahun ini, menurutnya, semakin menunjukkan acara tersebut adalah bagian dari konsolidasi politik kubu Prabowo.

Adi menilai jika acara hari ini adalah benar Reuni Aksi 212, maka seharusnya Jokowi yang diundang, bukannya Prabowo. Sebab, Jokowi adalah tokoh yang menghadiri Aksi 212 yang digelar pertama kali pada 2016 silam.

"Apa relevannya diundang Prabowo, toh Prabowo bukan alumni 212 kok, cuma karena Prabowo dianggap sebagai figur untuk melawan Pak Jokowi, ya, akhirnya Prabowo pun diundang," kata Adi.


Lebih dari itu, Adi berpendapat aksi massa semacam ini memang penting bagi konsolidasi politik pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Tujuannya, kata Adi, untuk menunjukkan kepada publik bahwa pendukung Prabowo-Sandi solid dan siap mendukung pada Pilpres 2019.

Adi menambahkan jumlah peserta aksi Reuni 212 pada tahun lalu tak sebanyak di tahun ini. Menurutnya, banyaknya peserta reuni pada tahun ini karena ada momentum politik pilpres pada tahun mendatang.

"Reuni 212 dianggap jadi trigger, jadi momentum bahwa kekuatan politik mereka selalu mendidih," kata Adi.

Acara Reuni Aksi 212 berlangsung pada Minggu, sejak pukul 03.00 WIB diawali salat tahajud bersama. Kemudian dilanjutkan dengan salat subuh berjamaah dan zikir. Selain itu, ada tausiah dari sejumlah ulama.
(dis/pmg)