PKS: Jumlah Peserta Reuni 212 Tak Penting Diperdebatkan

CNN Indonesia | Kamis, 06/12/2018 17:10 WIB
PKS: Jumlah Peserta Reuni 212 Tak Penting Diperdebatkan Jumlah massa peserta Reuni Akbar 212 masih diperdebatkan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menyatakan perdebatan jumlah peserta Reuni Akbar 212  yang diselenggarakan di kawasan Monumen Nasional, Minggu (2/12) lalu tidak terlalu penting dan tidak perlu dipersoalkan.

Jumlah massa yang datang saat itu masih diperdebatkan. Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyebut jumlahnya mencapai 11 juta orang. Sementara Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menaksir jumlah massa sekitar 40 ribu. Sejumlah pihak juga menyebut angka yang berbeda namun tak ada yang berani menyebut jumlah pasti.

"Buat saya, numbers doesn't matter. Tapi keadilan itu matters, kedamaian, ketertiban, kemarin rumput tidak diinjak buat saya itu sebuah orkestrasi di mana rakyat Indonesia bukan cuma yang muslim ya, tapi siapa saja bisa hadir dengan damai, menyampaikan aspirasinya," kata Mardani di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (6/12).


Mardani mengatakan sulit mendapatkan kepastian atau akurasi jumlah peserta reuni 212. Namun, jika ingin mendapatkan data ilmiah, menurutnya perlu didudukkan para ahli statistik dan geospasial untuk menghitung jumlah peserta reuni.

"Kalau enggak, panitia menyediakan. Dia buat drone beberapa, yang paling bisa siap ya panitia. Menyediakan 5 drone, 7 drone dibagi area, dihitung bisa," kata dia.

Mardani menduga kesalahpahaman atau kesimpangsiuran jumlah peserta reuni 212 lalu karena tidak digelarnya konferensi pers seusai kegiatan berlangsung.

"Karena tidak ada konferensi pers sangat mungkin. Jadi kalau buat saya pernyataan Pak Prabowo adalah pernyataan kebijaksanaan pemimpin agar media berlaku adil," ujarnya.

Dengan demikian, kata Mardani, jumlah peserta tidak perlu dipersoalkan karena tidak mempengaruhi massa yang akan memilih salah satu calon pada pilpres mendatang.

"Enggak ada masalah. Karena selama enggak dicoblosan itu belum nyoblos, itu belum tentu memilih salah satu pihak," ujarnya.

Lebih lanjut, Mardani menyatakan seharusnya sebagai pendukung Prabowo memiliki tugas meyakinkan dan bisa mengedukasi publik dengan menampilkan data pembanding dari yang diberitakan media.

"Misal saya pendukung Pak Prabowo, maka tugas saya, cari foto-foto terbaik, saya expose, amazing, incredible, wow. Bisa ada yang hitung? Biar nanti jadi viral, wah keren. Masak begini dibilang 40 ribu, sekolah dimana lo, gitu kan?" kata dia.

Bagi PKS, kata Mardani, media merupakan kawan dari partai politik. Jika ada perbedaan dari pemberitaan yang disiarkan, maka ada mekanisme yang dapat ditempuh berupa hak jawab atau menggelar konferensi pers.

Selain itu, Mardani mengakui jika setiap media memiliki kebijakan redaksional masing-masing. Jika ada sebuah media yang tidak menyiarkan satu peristiwa besar dengan nuansa politik tinggi dan bisa jadi isu hangat maka media itu akan kehilangan momentum.

"Kehilangan momentum untuk attract people untuk masuk ke medianya. Jadi menurut saya itu hak media," katanya.

Sebelumnya, Prabowo menyampaikan kekesalannya kepada sejumlah media arus utama di Indonesia saat dia berpidato di acara puncak hari disabilitas Internasional.

Dalam kesempatan itu, Prabowo mempersoalkan objektifitas media saat meliput reuni 212 di Monumen Nasional (Monas), Minggu (2/12) lalu. Prabowo menegaskan jumlah massa yang menghadiri aksi reuni 212 kemarin mencapai 11 juta peserta.

"Buktinya media hampir semua tidak mau meliput 11 juta lebih orang yang kumpul, belum pernah terjadi di dunia," kata Prabowo. (swo/sur)