"Ya paling kita coba memberikan protes kita. Protes keras pada Australia sudah merupakan upaya diplomasi yang kuat untuk mendukung Palestina," kata Effendi kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (15/12).
Effendi menyebut Kementerian Luar Negeri sudah tepat meminta Australia juga mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Selama ini, Australia dan 49 negara anggota PBB lainnya memang tercatat belum mengakui Palestina sebagai negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Effendi, keputusan Negeri Kangguru itu sungguh ironis dengan sikap Indonesia yang selalu memperjuangkan kemerdekaan Palestina sebagai negara berdaulat.
"Karena mengikuti aliansi jejak Amerika. Aliansi di kawasan Pasifik untuk Australia sangat kuat. Mau buat pangkalan militer di Darwin, membuat pangkalan militer di Papua Nugini," katanya.
Kala itu, Morrison mengatakan bahwa pertimbangan ini muncul karena proses perdamaian antara Israel dan Palestina tak kunjung usai, dengan salah satu isu utama perebutan Yerusalem sebagai ibu kota.
Pernyataan Morrison ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Indonesia. Sebagai pendukung Palestina, Indonesia menentang keras rencana Australia tersebut karena dianggap semakin mengancam prospek perdamaian Israel-Palestina.
Tak lama setelah rencana kontroversial itu diumumkan Morrison, Indonesia langsung menerbitkan pernyataan kecaman hingga memanggil duta besar Australia di Jakarta.
Indonesia bahkan mengancam rencana Negeri Kangguru itu bisa mempengaruhi proses penyelesaian perjanjian perdagangan bernilai US$11,4 miliar (sekitar Rp17,3 triliun) dengan Australia. (fra/has)