Menyusuri Kesuraman Pantai Barat Banten Usai Diamuk Tsunami

CNN Indonesia | Senin, 24/12/2018 06:12 WIB
Menyusuri Kesuraman Pantai Barat Banten Usai Diamuk Tsunami Sejumlah wilayah di pesisir pantai barat Banten porak poranda dihantam tsunami di Selat Sunda. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Langit masih terlihat murung di atas wilayah pantai barat Banten, Minggu (23/12) sore. Mendung pun tak kunjung terusir hujan yang telah turun berjam-jam lamanya.

Tak ada jingga di ujung cakrawala sore ini. Tak ada pula pesta pantai seperti hari-hari sebelumnya. Yang ada hanya suasana suram membungkus wilayah ini usai diamuk tsunami.

Wilayah pantai barat Banten diketahui baru saja diterjang gelombang pasang atau tsunami dari Selat Sunda pada Sabtu (22/12) malam. Air bah meluluhlantakkan apa saja yang dilewati di sepanjang Pantai Carita dan Tanjung Lesung, Pandeglang.


Per minggu (23/12) pukul 16.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 222 korban tewas akibat tsunami Selat Sunda, 843 korban luka, dan 28 orang hilang.

CNNIndonesia.com menyusuri puluhan kilometer pantai barat Banten pada Minggu (23/12). Dari mulai Pantai Anyer yang berada di Kabupaten Cilegon, hingga pantai Carita dan Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang.

Kondisi di sepanjang Pantai Anyer tidak terlalu suram pascatsunami. Namun, tetap ada beberapa bangunan yang nampak rusak, baik permanen maupun semi permanen. Suasana sepi terasa menyelimuti. Tidak banyak kendaraan berlalu-lalang.

"Homestay tutup semua. Takut. Hotel yang besar-besar mungkin buka tapi enggak ada tamunya," tutur seorang petugas kepolisian yang sedang berhenti di tepi jalan sekitar Pantai Anyer.

Akses sepanjang Pantai Anyer juga tergolong bersih dari puing reruntuhan bangunan. Karenanya, lalu lintas tidak tersendat. Ambulans dan mobil petugas penanggulangan bencana masih bisa melintas dengan lancar.

Kondisi Pantai Karang Bolong juga sepi layaknya Anyer. Cukup banyak bangunan semi permanen yang berada di tepi pantai.
Menyusuri Kesuraman Pantai Barat Banten Usai Diamuk TsunamiSejumlah rumah yg rusak akibat tsnumasi di kawasan Pantai Carita. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho).

Pantai Carita Porak Poranda

Kondisi sangat berbeda tersaji di sepanjang Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang. Sepanjang mata terbuka, maka selama itulah suasana mencekam terlihat.

Hampir seluruh bangunan di bibir pantai rusak. Terutama di wilayah Kampung Sambolo. Mayoritas bangunan semi permanen hancur tak berbentuk. Tiang rubuh dan atap sudah rata dengan tanah.

Sebagian besar bangunan semi permanen juga rusak berat. Tidak sedikit yang temboknya jebol akibat terjangan air bah. Banyak pula yang terancam rubuh.

Suasana di Pantai Carita, tepatnya di Kampung Sambolo, terasa sangat mencekam. Kanan kiri jalan penuh dengan puing reruntuhan bangunan serta berbagai macam benda berserakan. Pepohonan juga ada yang tercabut dari tanah dan menimpa mobil serta menghalangi jalan.

Mobil-mobil yang terbawa arus berada pada posisi tidak lazim. Ada yang terbalik dan rusak berat di tengah kubangan air. Ada pula yang berada di bawah reruntuhan bangunan. Entah bagaimana nasib pengemudi maupun penumpangnya.

Saat CNNIndonesia.com berada di sana, mayoritas warga Kampung Sambolo telah mengungsi ke Kampung Susukan. Hanya warga dari kampung lain yang ingin melihat-lihat.

"Sudah mengungsi semua ke Kampung Susukan yang agak tinggi. Saya warga Kampung Susukan. Banyak yang mengungsi ke tempat saya," tutur Aday.

"Listrik di sini juga mati," lanjutnya.
Menyusuri Kesuraman Pantai Barat Banten Usai Diamuk TsunamiSejumlah rumah dan mobil yang rusak akibat tsumami di kawasan Pantai Carita. (CNN Indonesia/Hesti Rika).

Pantai Tanjung Lesung Gelap Gulita

CNNIndonesia.com kembali melanjutkan perjalanan dari Pantai Carita menuju Tanjung Lesung di waktu petang. Akses begitu gelap. Tiada lampu jalan memadai. Tidak sedikit pula jalan yang rusak.

Setibanya di Kawasan Wisata Tanjung Lesung, listrik pun padam. Tidak ada penerangan yang cukup seperti biasanya. Hanya sinar lampu mobil petugas penanggulangan bencana dan kepolisian yang dapat ditemui saat berlalu-lalang.

Menurut penuturan personel keamanan, Hanafi, listrik memang padam. Sebagian besar genset berdaya besar rusak akibat air bah yang menyapu daratan.

Hanafi mengatakan ada genset bantuan dari BNPB, namun berdaya kecil. Sehingga hanya mampu menyalakan beberapa lampu yang sinarnya kuning temaram di bagian lobi Tanjung Lesung Beach Resort. Walhasil, air bersih pun menjadi tidak tersedia karena ketiadaan listrik.

"Ini saya aja enggak bisa charge ponsel," ucap Hanafi.

Pemandangan di tepi pantai Tanjung Lesung juga gelap lantaran listrik yang padam. Hanya sekilas samar-samar terlihat balai-balai dari kayu yang rusak. Hampir semuanya sudah menjadi puing, berserakan begitu saja di tanah.

Pohon-pohon tercabut dari tanah adalah salah satu panorama umum di sana. Pun banyak mobil yang berada di bibir pantai, terseret air bah yang kembali ke laut.

"Mobil itu ketarik air pas surut. Itu tarikannya kencang sekali pasti, soalnya mobil bisa sampai ke tepi pantai. Padahal parkiran di atas," tutur Hanafi.

Apa yang tersaji di sini benar-benar menunjukkan betapa dahsyatnya terjangan tsunami.

Cuaca yang masih tidak bersahabat, awan mendung yang tak beranjak pergi, kilat berulang kali menyala di kegelapan, disertai hembusan angin yang kencang dan rintik hujan, makin menambah kesuraman wilayah ini.

"Ponsel saya mati, orang di rumah sudah takut karena enggak ada kabar dari saya. Saya mau pulang dulu," kata Hanafi memungkasi percakapan. (bmw/osc)