Pengungsi Tsunami Lampung Tinggalkan Posko di Kantor Gubernur

CNN Indonesia | Senin, 24/12/2018 11:04 WIB
Hampir dua hari pascatsunami Selat Sunda yang menghantam pesisir Lampung pada Sabtu malam lalu, para pengungsi mulai tinggalkan posko di Kantor Gubernur. Warga Pesisir Kota Bandar Lampung mengungsi dan bermalam di Kantor Pemerintah Provinsi Lampung, Lampung. (ANTARA FOTO/Ardiansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Posko pengungsian warga di kantor Gubernur Lampung pada Senin (23/12) sudah mulai sepi sejak pukul 04.30 WIB karena mereka mulai kembali ke rumah masing-masing setelah tsunami Selat Sunda akhir pekan lalu.

Seperti dilansir dari Antara, Salah satu pengungsi Sulastri mengatakan ia pulang ke rumah karena kondisi sudah mulai aman dan kondusif. Apalagi setelah mendapatkan informasi bahwa tidak air naik lagi.

"Kita pulang karena kondisi sudah aman. Makanya kita sudah bisa pulang," ujar Sulastri.


Selain itu, Sulastri mengaku tetap waspada dan apabila mendengar terjadi kembali air pasang, maka ia akan kembali ke daerah yang tinggi.


Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Lampung, Sumarju Saeni, mengatakan meski pengungsi mulai berangsur-angsur pulang pihaknya tetap menyiagakan tenda dapur darurat.

Sumardju mengatakan, sebagian sembako yang tersedia akan dikirim ke Kalianda, Lampung Selatan untuk membantu para korban di posko pengungsian yang ada di sana.

"Di kantor gubernur masih tetap buka sampai ada perintah untuk ditutup. Tetapi sebagian bahan-bahan yang ada akan kita kirim untuk yang ada di Lampung Selatan," ujar Sumarju.


Nelayan Tak Berani Melaut

Sementara itu, akibat tingginya gelombang, para Nelayan di Bandarlampung sementara waktu memilih tidak melaut atau menangkap ikan setelah tsunami Selat Sunda yang terjadi pada malam akhir pekan lalu.

Kasim, salah satu nelayan di Gudang Lelang, Kelurahan Kangkung, Kecamatan Bumi Waras, Bandarlampung, mengatakan para nelayan setempat tidak ada yang melaut karena masih khawatir terkait dengan informasi masih akan terjadi tsunami.

Kasim juga menyebutkan selain karena isu tsunami itu, keluarga mereka pun masih di tempat pengungsian. Akibatnya, pikiran mereka terbagi dua antara melaut dan memikirkan keluarga.

"Sebenarnya cuaca sudah baik dan kami sudah siap melaut, namun keluarga masih belum pulang dari tempat pengungsian," katanya, Senin (24/12).

Kasim juga mengatakan ada dua kapal nelayan setempat belum pulang saat melaut hingga kini. Namun, sambungnya, diketahui mereka dalam kondisi aman di lautan setelah dihubungi, karena sempat bersandar di pulau terdekat.

Serupa Kasim, Sakim yang memilih menjahit jaring dogol karena tak melaut mengatakan, "Kemungkinan Rabu (26/12) kami akan melaut melihat kondisi terlebih dahulu, sekiranya sudah cukup aman baru kami berangkat."

Serupa dengan di kawasan pesisir Banten, kawasan Pesisir Kaliana dan Rajabasa, Lampung Selatan pun terhantam gelombang tinggi pada Sabtu (22/12) malam. Gelombang tinggi dari Selat Sunda itu menghantam daratan sekitar pukul 20.00 WIB kala itu.

Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan pendataan terkini, ada sekitar 371 rumah, dua hotel, dan sebuah masjid yang rusak terdampak tsunami di Lampung. Selain itu, ada 25 warung, 172 kendaraan, dan 207 perahu yang rusak di Lampung.

Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendata dampak tsunami Selat Sunda di Lampung Selatan tercatat setidaknya 60 korban jiwa, 230 luka-luka, dan 22 masih dinyatakan hilang.

(Antara/kid)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK