Nelayan di Banten Takut Menatap Laut dan Berdiri di Pantai

CNN Indonesia | Senin, 24/12/2018 14:48 WIB
Nelayan di Banten Takut Menatap Laut dan Berdiri di Pantai Dampak tsunami Selat Sunda terjang Banten dan Lampung Selatan, Sabtu (22/12) malam. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mayoritas nelayan yang tinggal di Teluk Caringin, Pandeglang, Banten belum tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya. Mereka masih terngiang ketika air bah akibat tsunami Selat Sunda menerjang tempat tinggalnya pada Sabtu malam lalu (22/12).

Rokib (47) salah satu di antaranya. Dia adalah korban tsunami. Beruntung, Rokib langsung bergegas menjauhi pantai ketika gelombang tinggi nampak dari laut menuju daratan. Dia hanya mengalami luka ringan di bagian kaki.

Namun, tetap saja, Rokib merasa Sabtu malam lalu adalah waktu paling mencekam yang pernah dirasakannya.


"Saya takut sekali pas malam minggu kemarin," ujar Rokib di SD Negeri Kalanganyar I, Pandeglang, Banten, Senin (24/12).


Rokib mengaku belum pernah selama hidupnya diterjang tsunami. Meski sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di bibir pantai dan menjadi nelayan Rokib mengatakan baru kali ini melihat langsung dan merasakan terjangan tsunami.

"Belum pernah sama sekali. Ini baru pertama kali. Airnya tinggi sekali. Enggak pernah ada ombak seperti ini. Ini tsunami," ucap Rokib.

Rasa takut bukan kepalang membungkus benak Rokib. Saat tsunami datang Rokib tengah berada di pantai bercengkerama dengan tetanggannya yang juga nelayan. Rokib lantas bergegas ketika nampak tembok putih datang dari tengah laut menuju ke tempat dirinya berada.

Dampak tsunami Selat Sunda di Banten. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Rokib lekas membawa keluarganya ke daerah yang cukup tinggi bernama Kalumpang. Mereka tidak menggunakan kendaraan. Hanya berlari.

Kini, Rokib pindah mengungsi ke SD Negeri I Kalanganyar lantaran merasa terlantar di daerah Kalumpang. Makanan dan air yang terbatas. Rokib pun membutuhkan pakaian bersih untuk anak isterinya yang tidak dapat disediakan warga yang menampungnya.

"Tapi mertua saya enggak mau. Dia tetap di Kalumpang. Trauma. Takut ada air dari laut lagi. Saya yang bawain makanan ke Kalumpang," ucap Rokib.


Perihal apa yang akan dilakukan selanjutnya, Rokib tidak tahu. Rumahnya hancur diterjang air bah. Tiada benda yang bisa diselamatkan pula. Melanjutkan pekerjaan sebagai nelayan pun masih belum terpikirkan.

"Karena itu tadi. Saya baru kali ini melihat gelombang tinggi banget. Belum tahu jadi nelayan lagi atau enggak. Tapi enggak tahu juga mau kerja apa," kata Rokib.

Tawi (52) senada dengan Rokib. Dia mengaku takut kembali ke pantai. Anomali yang masuk akal, yakni ketika nelayan tak berani lagi menginjakkan kaki di pantai dan melaut akibat baru pertama kali merasakan diterjang tsunami.

Evakuasi jenazah tsunami Selat Sunda di Banten. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Rumah Tawi juga hancur berantakan. Dia mengaku melihat sendiri dari jauh ketika tempat tinggalnya roboh.

"Saya lihat itu sambil lari. Kelihatan roboh, saya sudah enggak peduli lagi. Saya takut. Lari aja terus ke atas," kata Tawi.

Tawi, sejauh ini mengungsi di SD Negeri I Kalanganyar. Ada beberapa anggota keluarga kandungnya yang mengungsi ke wilayah Menes yang lebih tinggi.


Kondisi pengungsi di SD Negeri I Kalanganyar sendiri cenderung baik. Pakaian, makanan, dan air bersih mereka peroleh. Hal itu dikarenakan dekat dengan Posko bantuan bentukan Kementerian Sosial.

Meski begitu, Tawi tetaplah pengungsi. Tak punya rumah, dan tak tahu lagi harus berbuat apa.

"Saya baru tahu tsunami itu seperti ini," ujar Tawi.

(bmw/DAL)