Usai Tsunami, Warga Pandeglang Mengorek di Reruntuhan

CNN Indonesia | Senin, 24/12/2018 16:11 WIB
Usai Tsunami, Warga Pandeglang Mengorek di Reruntuhan Warga memantau reruntuhan akibat diterjang tsunami di Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, Senin (24/12). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Pandeglang, CNN Indonesia -- Batang-batang kayu dan bambu bercampur tak beraturan, bertumpuk bersama sampah kemasan air mineral dan drum, akibat tsunami hingga menutupi sebagian tembok pagar bertuliskan nama kantor Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, Senin (24/12).

Seorang warga tampak berada di dalam kantor desa memungut apa yang bisa diamankan dari sisa tsunami Selat Sunda yang menerjang daerah itu, Sabtu (22/12) malam. Senada, sejumlah warga tengah mencari barang-barang yang mungkin bisa diselamatkan dari warung atau rumahnya yang terkena tsunami.

Beberapa toko tampak hancur. Sebuah warung terlihat koyak bagian rolling door-nya, meski bangunannya tetap berdiri. Pemilik sempat mengamankan sejumlah tabung elpiji di mobil bak. Sementara, warung tradisional yang memakai rangka kayu atau bambu tampak roboh.



Tak jauh, kapal nelayan tradisional tampak terdampar miring di pantai. Sementara, evakuasi korban disebut masih terus berlangsung.

Rumah-rumah, gubuk, dan kantor desa itu tak jauh dari bibir pantai yang menghadap langsung ke Selat Sunda. Dari pantauan CNNIndonesia.com di lokasi kejadian, bangunan di lokasi itu nyaris tak berjarak dengan pantai.

Eli, warga Cinibung, Kecamatan Sumur, mengaku terus melakukan evakuasi selama dua hari tanpa henti. Pada saat yang sama, warga lainnya masih mengungsi ke perbukitan demi menghindari potensi tsunami susulan.

Kantor Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, Senin (24/12).Kantor Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, Senin (24/12). (CNN Indonesia/Hesti Rika)

"Saya udah enggak tidur dua hari dua malam, Mbak. Masih evakuasi terus," ucapnya, saat ditemui di lokasi.

Wilayah itu disebutnya sudah mendapat bantuan logistik sehari pascabencana. Bentuknya, mi instan, beras, telor, dan selimut. Nyaris bersamaan, alat berat pun berdatangan ke lokasi ini untuk membersihkan puing.

"Bantuan baru datang Minggu malam ke Sumur," ucapnya.

Masalahnya, kata Eli, belum ada alat masak untuk mengolah bahan-bahan itu ataupun dapur umum. Peralatan milik warga sudah hanyut tergulung tsunami bersama pemukiman mereka.

"Dapur umumnya belom ada, alat-alat masak enggak ada, hanyut semua kena ombak. Mau gimana coba?" tanya Eli.

Meski begitu, ia mengakui ada wilayah yang lebih parah terkena dampak tsunami. "Yang lebih parah ada lagi, Tamanjaya, Mbak," imbuh Eli.

Warga menyelamatkan sisa-sisa barang dari reruntuhan rumah di Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, Senin (24/12).Warga menyelamatkan sisa-sisa barang dari reruntuhan rumah di Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, Senin (24/12). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Berdasarkan data BNPB, korban tsunami Selat Sunda mencapai 281 orang meninggal dunia, 1.016 orang luka-luka, 57 orang hilang dan 11.687 orang mengungsi. Kerusakan fisik meliputi 611 unit rumah rusak, 69 unit hotel-vila rusak, 60 warung-toko rusak, dan 420 perahu-kapal rusak.

Pandeglang menjadi wilayah yang terparah terkena dampak tsunami. Rinciannya, sebanyak 207 orang meninggal dunia, 755 orang luka-luka, 7 orang hilang, dan 11.453 orang mengungsi. Kerusakan fisik meliputi 611 unit rumah rusak, 69 hotel dan vila rusak, 60 warung makan dan toko rusak, 350 perahu rusak, dan 71 unit kendaraan rusak.

(hst/arh)