Suriyanto
Lahir di Lampung, pernah di koran Jurnal Nasional. Kini salah satu punggawa desk nasional politik CNNIndonesia.com

Hentak Tsunami Selat Sunda dan Gagap 'Gempita' Bencana

Suriyanto, CNN Indonesia | Senin, 24/12/2018 19:50 WIB
Hentak Tsunami Selat Sunda dan Gagap 'Gempita' Bencana Tsunami Selat Sunda tak terdeteksi oleh BMKG karena bukan berasal dari gempa. Peralatan pendeteksi yang rusak menjadi masalah lainnya. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bencana kembali melanda Indonesia. Di pengujung 2018, gelombang tsunami melanda kawasan pesisir di Selat Sunda.

Provinsi Lampung dan Banten pun terdampak. Ratusan bangunan luluh lantak. Ratusan nyawa melayang. Sejumlah kampung porak poranda, begitu pula kawasan wisata yang tengah bersolek menyambut malam pergantian tahun.

Tsunami bukan bencana baru bagi Indonesia setelah gelombang tinggi air laut melanda Aceh 14 tahun silam. Namun lagi-lagi seakan kita gagap dalam menanganinya.



Upaya mitigasi bencana yang disiapkan seolah-olah tak berjalan seperti yang direncanakan. Setidaknya ada dua hal yang bisa dipertanyakan terkait gagapnya kita dalam tsunami Selat Sunda ini.

Pertama soal faktor pemicu. Selama ini, tsunami yang terjadi dipicu gempa besar. Aceh 2004, Mentawai 2010 dan Palu 2018 adalah contohnya. Selain itu, erupsi besar gunung api di tengah laut juga jadi pemicu. Letusan Krakatau 1883 adalah contoh nyata.


Namun tsunami pekan lalu, tak ada gempa mengguncang sebelumnya, melainkan erupsi 'kecil' Anak Krakatau yang menyebabkan longsor.

Walaupun demikian, Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho menyebut erupsi Anak Krakatau saat kejadian tidak lebih besar dari hari-hari sebelumnya.

Hal lain yang patut dipertanyakan adalah upaya mitigasi bencana. Saat kejadian diketahui tak ada bunyi sirine peringatan bahaya tsunami.

Biasanya dalam bencana tsunami yang didahului gempa, BMKG lebih dulu mengirim pengumuman soal potensi tsunami. Pemberitahuan melalui media sosial, pesan singkat atau notifikasi aplikasi, biasanya cepat sampai ke warga.

Untuk tsunami yang dipicu gemba bumi, ada pula tanda-tanda berupa surutnya air laut. Karena itu biasanya jika sudah ada imbauan dari BMKG ditambah dengan surutnya air, warga bakal berduyun-duyun ke tempat yang lebih tinggi.

Namun dalam kasus tsunami di Selat Sunda ini, BMKG sebelumnya hanya mengeluarkan peringatan gelombang tinggi, bukan tsunami, di sejumlah perairan.
Hentak Tsunami Selat Sunda dan Gagap BencanaSuasana perkampungan usai diterjang tsunami. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)

Peringatan ini lumrah terjadi. Akhir tahun lalu saya ingat betul peringatan yang sama dikeluarkan BMKG. Saat itu malah penyeberangan Merak - Bakauheni sampai harus dihentikan karena tingginya gelombang.

Dugaan pemicu serta tanpa ada peringatan tsunami lebih dulu ini yang saya anggap sebagai bentuk gagapnya kita dalam menghadapi bencana. Ternyata kita belum sepenuhnya siap menghadapi bahaya tsunami, terutama potensi tsunami bukan karena gempa.


Dalam video yang tersebar di media sosial, rombongan karyawan PLN bahkan tengah menikmati band Seventeen yang personelnya turut jadi korban, saat tsunami menerjang tiba-tiba dari belakang panggung.

Tak ada kabar air laut surut sebelum gelombang tinggi datang. Tak ada pemberitahuan potensi tsunami atau menjauhi kawasan pesisir. Namun nyatanya, tsunami datang dan merenggut nyawa ratusan warga.

Pelampung Tsunami

Saat tsunami melanda, ingatan saya kembali melayang pada bouy atau pelampung tsunami yang kabarnya bisa mengirimkan informasi awal gelombang tinggi. Pelampung yang jumlahnya 22 unit itu dikabarkan semua rusak alias tak berfungsi.

BMKG mengakui tak lagi didukung oleh data dan informasi dari bouy tsunami. Belum ada kabar lagi apakah akan ada perbaikan atau penambahan pelampung-pelampung tersebut.

Hentak Tsunami Selat Sunda dan Gagap Bencana(Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)



Dugaan pemicu, tak ada sistem peringatan dini, serta tak jelasnya kabar pelampung tsunami ini yang membuat kita gagap saat menghadapi tsunami 'model langka' seperti di Selat Sunda.

Pemerintah mulai saat ini haru berbenah mulai mendeteksi potensi bencana lama atau potensi baru. Selain itu perkara lama seperti pelampung tsunami, sirine, hingga shelter harus mulai diperbaiki.

Jangan lagi ada kegagapan dalam menghadapi bencana sehingga berimbas pada banyaknya korban jiwa.


Kita tentu masih ingat saat 2004 kita benar-benar gagap pada datangnya tsunami. Atau pada tsunami Palu di mana tak ada satu pun warga mendengar sirine peringatan tsunami.

Padahal kita tahu Indonesia adalah negara rawan bencana, hidup di tengah cincin api yang sewaktu-waktu mengintai nyawa. (asa/asa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS