Wagub Banten Desak BMKG Maksimalkan Teknologi Terkait Tsunami

CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 01:12 WIB
Wagub Banten Desak BMKG Maksimalkan Teknologi Terkait Tsunami Wakil Gubernur Banten, Andhika Hazrumy mendesak BMKG meningkatkan teknologi antisipasi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/HO/Windy Cahya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten meminta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bisa mengoptimalkan alat peringatan dini tsunami di pesisir Banten.

Wakil Gubernur Banten, Andhika Hazrumy mengatakan tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12) merupakan fenomena baru. "Kami berharap kepada BMKG untuk dapat memaksimalkan teknologi, alat untuk dapat mengidentifikasi kejadian seperti di provinsi Banten," tutur Andhika di RS Berkah Pandeglang, Senin (24/12).

Andhika berharap dengan teknologi peringatan dini tsunami yang lebih maksimal, hal itu bisa meningkatkan kewaspadaan masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan dekat pesisir pantai.




"Agar masyarakat lebih tahu dan lebih waspada, dalam menghadapi musibah seperti tsunami yang memang tidak didahului gempa bumi ini," ujarnya.

Sementara itu, terkait dengan masih tingginya aktivitas Gunung Anak Krakatau, Andhika mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspda. Selain itu, ia juga mengimbau kepada masyarakat di kawasan pesisir untuk sementara waktu menjauhi kawasan pesisir dan garis pantai.



"Tetap waspada dan menjauhi pesisir dan garis yang memang menjadi titik-titik wilayah yang dilanda bencana tsunami tersebut," kata Andhika.

Wagub Banten Desak BMKG Maksimalkan Teknologi Terkait TsunamiDampak Tsunami Selat Sunda di Desa Sumberjaya. (CNN Indonesia/Hesti Rika)


Sebelumnya, BMKG masih menganalisis peluang tsunami kembali melanda kawasan Selat Sunda dan sekitarnya akibat aktivitas vulkanis Gunung Anak Krakatau.

"Itu yang saat ini sedang dianalisis bersama, dengan Badan Geologi dan lembaga lain," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di kantornya, kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (24/12).



Ia mengatakan sejauh Gunung Anak Krakatau masih terus bererupsi, tsunami tentu bisa kembali terjadi. Namun seberapa besar peluangnya, hal tersebut masih dalam kajian.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono juga mengatakan hal serupa. Tsunami di Selat Sunda hanya bisa terjadi jika ada aktivitas vulkanik yang menyebabkan dinding gunung longsor ke laut.

"Kalau tidak ada (aktivitas vulkanik) kecil untuk longsor. Artinya kalau tidak ada longsor, ya tidak ada tsunami," ungkap Rahmat.



Hingga dini hari tadi (24/12) diketahui Gunung Anak Krakatau masih berstatus waspada (level II) dengan rekomendasi bahwa masyarakat atau wisatawan tidak diperbolehkan mendekat dalam radius dua kilometer dari kawah. (dis/ain)