Ratusan Warga Gorontalo Mengungsi Akibat Termakan Isu Tsunami

CNN Indonesia | Kamis, 27/12/2018 02:54 WIB
Ratusan Warga Gorontalo Mengungsi Akibat Termakan Isu Tsunami Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan warga di Desa Koluwoka dan Buluwatu, Gorontalo Utara mengungsi ke wilayah perbukitan akibat termakan informasi akan terjadinya tsunami di wilayah tersebut. Padahal hingga kini, tak ada informasi resmi dari BMKG terkait peringatan dini tsunami di wilayah tersebut. 

"Sudah beberapa hari ini, warga disibukkan mengemas barang-barang berharga. Pada Rabu (26/12) sejak pukul 21.00 WITA, (mereka) mulai mengungsi di wilayah perbukitan Koluwoka," ujar Muhlis Ismail, warga Koluwoka, dikutip dari Antara, Kamis (27/12).

Muhlis beserta keluarga dan sekitar ratusan kepala keluarga dari Dusun Tenilo, Bahari, dan Halabolu Desa Koluwoka sudah mengungsi di tempat yang dianggap aman dari terjangan tsunami. Puluhan warga lainnya di Desa Buluwatu juga ikut mengungsi.


Menurut Muhlis, sebagian besar pengungsi adalah anak-anak, lansia, dan ibu hamil.


Ia mengaku, masyarakat menerima informasi dari mulut ke mulut yang berasal dari media sosial, kemudian memunculkan reaksi ketakutan sehingga mereka memilih mengungsi. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, tsunami akan melanda wilayah itu pada Rabu (26/12).

Saat ini, rata-rata pemukiman penduduk Desa Koluwoka berjarak 100-300 meter dari tepi pantai.

Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Pemerintah Desa Koluwoka Ahmad Usman menjelaskan beberapa warga memang memilih berada di lokasi-lokasi ketinggian sejak lepas maghrib. Ia sendiri mengaku telah meminta warga tak panik dan tak mudah percaya pada informasi yang tidak akurat.

"Beberapa kepala keluarga bahkan keluarga terdekat saya, memilih ikut ke wilayah perkebunan yang ada di ketinggian, karena takut akan adanya tsunami. Kami tidak menganjurkan, tapi tidak menahan warga untuk tidak mengungsi," ujar Ahmad.


Ia mengatakan, warga yang mengungsi tidak membangun tenda-tenda pengungsian. Rata-rata warga menginap di gubuk-gubuk yang dibangun di areal perkebunan.

Kebanyakan mereka hanya membawa barang seadanya, seperti makanan dan selimut juga barang berharga yang mudah dibawah.

Di sisi lain, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Gorontalo Utara tengah berupaya untuk membujuk para warga untuk turun.


"Kami memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait mitigasi kebencanaan, maka mereka diharapkan segera turun dari lokasi-lokasi pengungsian, apalagi para balita, anak-anak, lanjut usia (lansia) dan ibu hamil, yang rentan terhadap cuaca dingin," ujar Penasihat Tagana Risan Demanto.

Ia berharap warga tidak mempercayai informasi yang tidak akurat, apalagi tidak ada informasi akan adanya tsunami yang diterbitkan oleh pihak yang berkompeten, seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Informasi yang beredar adalah perlunya kewaspadaan terhadap curah hujan tinggi, angin kencang di wilayah perairan serta gelombang tinggi yang bisa berdampak pada aktivitas masyarakat di tepi pantai ataupun bagi keselamatan para nelayan. Sementara situasi perairan atau kondisi gelombang laut di wilayah itu, kata Risan, cukup tenang hingga saat ini. (Antara/agi)