Badan Geologi Akui Sulit Deteksi Longsor Anak Krakatau

CNN Indonesia | Kamis, 27/12/2018 17:21 WIB
Badan Geologi Akui Sulit Deteksi Longsor Anak Krakatau Badan Geologi Kementerian ESDM mengaku sulit mendeteksi longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, salah satu pemicu tsunami di Selat Sunda. (STR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui sulit mendeteksi longsor bawah laut yang diakibatkan erupsi Gunung Anak Krakatau. Longsor bawah laut itu diduga menjadi salah satu pemicu tsunami di Selat Sunda, Sabtu (22/12) lalu.

"Longsoran itu secara ilmu pengetahuan sangat dipahami, tetapi secara realitas sulit dideteksi," kata Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo di kantornya, Jakarta, Kamis (27/12).

Antonius atau biasa disapa Purbo menjelaskan longsor bawah laut Gunung Anak Krakatau dipicu berbagai faktor, seperti getaran, hujan hingga gempa tektonik yang tidak terasa.



Menurutnya, meski aktivitas Gunung Anak Krakatau telah meningkat sejak Juli, potensi longsor yang timbul akibat erupsi gunung tersebut tidak dapat diprediksi.

"Karena gunungnya sedang meletus. Sinyal dB-nya lagi besar. Sinyalnya itu besar letusan erupsinya lebih besar dari sinyal longsor. Jadi ketutupan sama sinyal letusan itu," katanya.

Purbo mengatakan karena kesulitan mendeteksi kapan dan di mana longsor terjadi, maka antisipasi yang dapat dilakukan adalah deteksi dini terhadap efek longsoran.

Caranya, kata dia, dengan memasang alat untuk mendeteksi efek longsoran di sekitar lokasi yang berpotensi longsor yaitu di Pulau Panjang, kompleks Gunung Anak Krakatau.

"Kalau kita tahu longsor itu di seputaran Krakatau, ya sekarang kita memberi masukan ke BMKG untuk memasang alat yang paling dekat, misal ambil di Pulau Panjang, kan masih jauh jarak Krakatau ke pantai," ujarnya.


BMKG sebelumnya mengerahkan enam seismograf atau alat untuk mencatat gempa bumi di sekitar Gunung Anak Krakatau. Enam seismograf yang mulai dioperasikan mulai hari ini itu ditempatkan di wilayah Banten dan Lampung.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono menyatakan seismograf itu dikerahkan untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih cukup signifikan dan berpotensi bisa menimbulkan longsor.

"Dengan seismograf yang dimiliki BMKG, mengepung Gunung Anak Krakatau, diharapkan bisa mencatat. Kalau satu sensor saja mencatat itu setelah diatur, dia akan mengeluarkan alarm," kata Rahmat dalam jumpa pers di Kantor BMKG, Jakarta, Selasa (25/12).

(swo/pmg)