Petir dan Semburan Abu Terlihat di Gunung Anak Krakatau

CNN Indonesia | Kamis, 27/12/2018 17:45 WIB
Petir dan Semburan Abu Terlihat di Gunung Anak Krakatau Aktivitas vulkanis di Gunung Anak Krakatau pada 26 Desember 2018. (AFP/STR)
Cinangka, Serang, CNN Indonesia -- Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanis pada Kamis (27/12) petang. Aktivitas gunung tersebut terjadi beberapa jam setelah status ancaman naik ke level III (siaga).

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Cinangka, Serang, gunung yang berada di Selat Sunda itu mulai tampak bergeliat kembali secara kasat mata sejak pukul 16.30 WIB.


Terlihat kilatan petir beberapa kali menyambar Anak Krakatau dan Pulau Rakata yang berada di dekatnya. Awan hujan juga memayungi Gunung Anak Krakatau.


Kepulan abu membumbung tinggi. Bahkan abu berbentuk gumpalan itu menutupi Anak Krakatau.

Suara dentuman keras mengiringi aktivitas Anak Krakatau. Setidaknya suara itu terdengar hampir sekitar lima menit sekali.

Meski jarak dari Pos Pengamatan dan Anak Krakatau sekitar 42 kilometer, namun aktivitas gunung tersebut terlihat jelas. Bahkan CNNIndonesia.com tidak memerlukan teropong yang tersedia guna melihat aktivitas tersebut.

Berdasarkan prediksi Badan Metereologi, Klomatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pagi tadi angin di sekitar Anak Krakatau mengarah ke Barat dan Barat Daya atau Samudera Hindia. Namun, ada kemungkinan kepulan asap dan abu akan berbalik arah mengarah ke Cilegon, Banten.

Petir dan Semburan Asap Terlihat di Gunung Anak Krakatau
Pada pagi tadi, Badan Geologi Kementerian ESDM menaikkan status Gunung Anak Krakatau ke Level III (Siaga). Sebelumnya gunung ini menyandang status waspada atau level II sejak 26 Januari 2012.

Aktivitas Anak Krakatau itu mulai intens sejak medio 2018. Sepanjang Desember 2018, Anak Krakatau sudah mengalami gempa letusan setidaknya lebih dari 1.500 kali.

Selain itu, sejak 22 Desember lalu, gunung ini mengalami tremor terus menerus dengan dominan amplitudo 25 mm. Akibat aktivitas vulkanis yang terjadi pada Sabtu (22/12) malam, mengakibatkan kolaps pada lereng Anak Krakatau yang menyebabkan gelombang tinggi atau tsunami ke pesisir Banten dan Lampung Selatan.


[Gambas:Video CNN]

(dhf/kid)