Tsunami yang diakibatkan oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau itu memang bukan tsunami biasa. Berbeda dengan tsunami yang dipicu gempa tektonik, gelombang besar kemarin datang tanpa tanda-tanda pantai surut.
Orang-orang tunggang langgang menyelamatkan diri menjauhi bibir pantai saat air menerjang. Tak sedikit yang berpisah dari keluarganya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu Yusron menyambangi pasar malam untuk menyenangkan buah hatinya. Sebelum kejadian, Yusron mengaku melihat gelombang besar bergerak ke arah pantai.
Sadar akan situasi itu ia pun segera meninggalkan keramaian pasar malam. Anaknya yang masih ingin bermain tak dihirauhkan.
Kerusakan di Kecamatan Sumur akibat tsunami Banten. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Yusron merasa ia dan anaknya tak akan selamat bila sedikit menunda. Menurutnya ada banyak korban tak selamat di pantai tersebut karena tak segera melarikan diri. Tetangga Yusron merupakan salah seorang yang tewas karena kembali ke rumah dengan niat melarikan diri dengan sepeda motor.
"Kalau saya menuruti maunya anak terus main di sana pasti kena juga kita," ucap Yusron mengenang.
Disebut Yadi kepanikan luar biasa terjadi di pasar malam saat air menerjang. Yang masih selamat memenuhi jalan raya dan berlari mencari dataran tinggi.
"Panik betul waktu itu orang-orang. Air di ujung gelombang bisa sampai setinggi dada orang dewasa," kata Yadi yang berprofesi sebagai guru.
Tsunami juga merangsek hingga perkampungan warga. Seperti Yusron, Yadi termasuk yang kehilangan rumah dan harta bendanya akibat sapuan tsunami. Akan tetapi, beruntung bagi keduanya, seluruh anggota keluarga mereka tak ada yang jadi korban jiwa bencana ini. Menyadari ini saja cukup membuat mereka senang. (wis)
Kerusakan di Kecamatan Sumur akibat tsunami Banten. (CNN Indonesia/Safir Makki)