Horor di Pasar Malam dan Insting Yusron Hadapi Tsunami Banten

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 08:17 WIB
Horor di Pasar Malam dan Insting Yusron Hadapi Tsunami Banten Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banteng, yang berada di bibir pantai porak poranda diterjang tsunami Banten. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Pandeglang, CNN Indonesia -- Pasar malam yang riuh di bibir pantai di Kampung Sumur, Pandeglang, Banten, pada Sabtu (22/12) lalu, seketika berubah jadi histeris massa yang memilukan ketika gelombang tsunami datang menerjang.

Tsunami yang diakibatkan oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau itu memang bukan tsunami biasa. Berbeda dengan tsunami yang dipicu gempa tektonik, gelombang besar kemarin datang tanpa tanda-tanda pantai surut. 

Orang-orang tunggang langgang menyelamatkan diri menjauhi bibir pantai saat air menerjang. Tak sedikit yang berpisah dari keluarganya.


Yusron (43), warga Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, adalah salah satu pengunjung pasar malam yang selamat dari terjangan tsunami itu. Dia masih mengingat betul detik-detik menjelang kedatangan air bah tersebut.

Saat itu Yusron menyambangi pasar malam untuk menyenangkan buah hatinya. Sebelum kejadian, Yusron mengaku melihat gelombang besar bergerak ke arah pantai.

Insting Yusron sebagai nelayan langsung bekerja. Dari amatannya, tak satu pun pohon bergoyang ditiup angin. Ditambah suara gemuruh dari tengah laut, ia tiba di kesimpulan bahwa gelombang itu adalah tsunami.

Sadar akan situasi itu ia pun segera meninggalkan keramaian pasar malam. Anaknya yang masih ingin bermain tak dihirauhkan.

"Saya langsung lari bersama anak ke jalan besar mencari tempat tinggi," kata Yusron.

Insting Nelayan Bantu Yusron Selamat dari Tsunami BantenKerusakan di Kecamatan Sumur akibat tsunami Banten. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Insting Yusron tak meleset. Tak lama setelah menjauhi bibir pantai gelombang tsunami pun menerjang. 

Yusron merasa ia dan anaknya tak akan selamat bila sedikit menunda. Menurutnya ada banyak korban tak selamat di pantai tersebut karena tak segera melarikan diri. Tetangga Yusron merupakan salah seorang yang tewas karena kembali ke rumah dengan niat melarikan diri dengan sepeda motor.

"Kalau saya menuruti maunya anak terus main di sana pasti kena juga kita," ucap Yusron mengenang.

Warga lain yang selamat, Yadi (43), memperkirakan air yang datang saat itu berketinggian hingga dada orang dewasa.

Disebut Yadi kepanikan luar biasa terjadi di pasar malam saat air menerjang. Yang masih selamat memenuhi jalan raya dan berlari mencari dataran tinggi.

"Panik betul waktu itu orang-orang. Air di ujung gelombang bisa sampai setinggi dada orang dewasa," kata Yadi yang berprofesi sebagai guru.

Tsunami juga merangsek hingga perkampungan warga. Seperti Yusron, Yadi termasuk yang kehilangan rumah dan harta bendanya akibat sapuan tsunami. Akan tetapi, beruntung bagi keduanya, seluruh anggota keluarga mereka tak ada yang jadi korban jiwa bencana ini. Menyadari ini saja cukup membuat mereka senang. (wis/wis)