PVMBG: Tinggi Anak Krakatau Susut, Potensi Tsunami Mengecil

CNN Indonesia | Sabtu, 29/12/2018 15:45 WIB
PVMBG: Tinggi Anak Krakatau Susut, Potensi Tsunami Mengecil Gunung Anak Krakatau (STR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan potensi tsunami susulan di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau masih dapat terjadi meski relatif kecil.

Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo menjelaskan hal itu lantaran volume dan tinggi Gunung Anak Krakatau telah menyusut sehingga potensi tsunami akibat longsoran besar dari gunung itu terhitung kecil.

"Dengan jumlah volume yang tersisa tidak terlalu besar, maka potensi terjadinya tsunami relatif kecil, kecuali ada reaktivasi struktur patahan sesar yang ada di Selat Sunda," ujar Antonius atau karib disapa Purbo di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Sabtu (29/12).


Penyusutan volume Gunung Anak Krakatau yang semula bervolume hingga 180 juta meter kubik, saat ini tersisa sekitar 40-70 juta meter kubik. Penyusutan ini menurut Antonius akibat tingginya aktivitas gunung api tersebut pada 24-27 Desember. Tinggi Gunung Anak Krakatau yang semula 338 meter di atas permukaan laut, kini juga menyusut menjadi 110 meter.

Berdasarkan pantauan PVMBG, Jumat (28/12), aktivitas Gunung Anak Krakatau telah mereda dengan letusan surtseyan (erupsi yang terjadi di lautan dangkal) yang bersifat impulsif dan tidak lagi menimbulkan suara dentuman. Namun, status Gunung Anak Krakatau masih dalam level III atau siaga.

"Letusan jenis ini karena terjadi dipermukaan air laut. Meskipun bisa banyak menghasilkan abu, tapi tidak akan menjadi pemicu tsunami. (Namun) potensi bahaya lontaran material lava pijar masih ada," katanya.

Untuk itu, Purbo mengatakan hal yang perlu dilakukan adalah mengantisipasi reaktivasi struktur patahan sesar di Selat Sunda karena tidak dapat diprediksi.

Sebab, lanjutnya, struktur patahan sesar Selat Sunda terbilang sangat kompleks, karena bersifat memanjang dan mengaitkan Pulau Sumatera dengan pulau sekitar Krakatau yaitu Pulau Sebesi dan Rajabasa di Lampung.

"Jadi kalau kita lihat bahwa itu yang tetap harus diantisipasi, bukan berarti kapan si struktur sesar ini aktif tetapi kalau struktur sesar aktif ini apa kita siap dibalik itu yang penting," ujar Purbo.

Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly menyatakan pihaknya telah melakukan pemotretan udara terhadap Gunung Anak Krakatau.

"Berdasarkan hasil pemotretan udara oleh TNI AU dan BMKG diketahui Gunung Anak Krakatau masih aktif, masih berpotensi membangkitkan tsunami," kata Sadly dalam keterangannya siang ini.

BMKG meminta agar masyarakat tetap tenang dan waspada, dengan menghindari aktivitas di pantai/pesisir Selat Sunda, dalam radius 500 meter sampai 1 kilometer dari tepi pantai. (swo/eks)