Banyak Bencana, MUI Imbau Tak Foya-foya Sambut Tahun Baru

CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 14:08 WIB
Banyak Bencana, MUI Imbau Tak Foya-foya Sambut Tahun Baru Ilustrasi perayaan tahun baru. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi meminta kepada masyarakat agar tidak menyambut tahun baru 2019 secara berlebihan, apalagi sampai foya-foya. Menurut dia, tidak perlu ada perayaan hingga menghabiskan banyak uang.

"MUI mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menyambut Tahun Baru 2019 dengan semangat kesederhanaan, menjauhkan diri dari sikap boros, berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan yang tidak banyak manfaatnya (mubazir)," tutur Zainut melalui siaran pers, Senin (31/12).

Zainut lantas menyinggung beberapa bencana alam yang belum lama terjadi di sejumlah daerah. Misalnya, gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah serta di Banten dan Lampung akibat terjangan tsunami dari Selat Sunda.


Menurut Zainut, lebih baik jika Tahun Baru 2019 dijadikan ajang untuk menggalang bantuan kepada mereka yang terdampak bencana. Tentu dalam rangka meringankan beban penderitaan mereka yang terkena bencana alam.

"Hal tersebut sebagai bentuk refleksi dari nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang dan kepedulian antarsesama," ucap Zainut.

Zainut iuga menilai alangkah baik jika masyarakat banyak bersyukur karena telah diberikan karunia berupa umur panjang, kesehatan, dan kemurahan rezeki. Oleh karena itu, lanjut Zainut, masyarakat hendaknya memperbanyak doa, zikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

"khususnya berdoa untuk keselamatan bangsa dan negara dari berbagai musibah dan ancaman bencana yang akhir-akhir ini sering menimpa bangsa Indonesia," kata Zainut.

Dengan demikian, Indonesia menjadi aman dan diselamatkan dari berbagai macam ujian. Baik berupa bencana alam maupun hal-hal yang merujuk kepada disintegrasi bangsa.

Jaga Harmonisasi di 2019

Zainut lalu meminta kepada para pemimpin bangsa, agama, dan politik agar memperhatikan kondisi di masyarakat pada 2019 mendatang. Semua pihak harus menahan diri.

Jangan sampai mengutarakan ekspresi politik yang dapat memperkeruh keharmonisan di masyarakat. Terlebih, pemilu dilaksanakan pada 2019.

Tindakan-tindakan berupa menjelekkan, fitnah, menyebarkan hoaks, dan ujara kebencian mesti dihindari. Menurut Zainut, tindakan tersebut sama sekali tidak memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, pun dapat menimbulkan perpecahan.

Zainut mengajak semua pihak untuk membangun budaya politik yang santun dan penuh dengan kesopanan. Budaya politik yang penuh dengan kecurigaan, pertentangan, permusuhan, dan persaingan yang tidak sehat dengan menghalalkan segala cara.

"Jadikanlah perbedaan aspirasi politik sebagai rahmat untuk saling menghormati dan memuliakan agar persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) tetap terpelihara," kata Zainut. (bmw/osc)