Terompet Tahun Baru Armin Tak Lagi 'Nyaring' di Pandeglang

CNN Indonesia | Selasa, 01/01/2019 12:00 WIB
Terompet Tahun Baru Armin Tak Lagi 'Nyaring' di Pandeglang Armin, salah satu penjual terompet tahun baru di Pasar Labuhan, Pandeglang, Banten. (Foto: CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)
Banten, CNN Indonesia -- "Yuk ibu, ibu, ini Rp5 ribu saja terompetnya, bu," ujar Armin (40), seorang pedagang terompet di kawasan Pasar Labuan sambil melemparkan senyum saat menjajakan aneka terompetnya.

Rintik hujan mulai menyiram Pasar Labuan, Pandeglang, Banten, Senin (31/12) sore.

Selang beberapa lama kemudian, seorang wanita pengunjung menghampiri kiosnya yang berbentuk semi permanen berukuran 1x1 meter itu.


"Berapa nih harganya?" tanya seorang ibu itu sambil mengangkat terompet yang terbuat dari karton.

"Itu Rp15 ribu saja bu, yang paling bagus kualitasnya," jawab Armin.

Tak ada respon dari calon pembeli itu. Ia hanya melihat-lihat terompet dagangannya dan batal membeli.

Armin pun menggeser tubuhnya kembali duduk di teras sebuah kios toko dengan beralaskan kardus.

"Begitulah, kebanyakan calon pembeli cuma nanya doang, enggak jadi beli," kata dia kepada CNNIndonesia.com.

Sudah 18 tahun terakhir, Armin 'nyambi' menjadi pedagang terompet musiman yang berjualan di Pasar Labuan sebelum tahun baru tiba. Sehari-hari, ia turut berdagang perkakas pertanian di tempat yang sama.

Armin mengatakan, harga terompet yang dijualnya bervariasi mulai dari Rp 5 ribu hingga termahal Rp 15 ribu per buah. Terompet tersebut beraneka ragam, mulai dari terompet tiup yang terbuat dari karton hingga terompet yang dari plastik.

Tahun ini menjadi tahun yang penuh muram bagi Armin. Dia merasakan sulitnya berjualan terompet usai bencana tsunami menerjang kawasan tersebut pada Sabtu (23/12).

Armin bercerita bahwa dirinya sekeluarga turut menjadi korban terkait bencana yang telah menewaskan ratusan tersebut. Sebab, kediamannya yang terletak di wilayah Desa Kalanganyar, Labuhan, turut terdampak bencana tsunami.

Kediamannya itu terletak sekitar 1 kilometer dari tempatnya berjualan terompet di Pasar Labuan.

Ia mengisahkan rumahnya turut terendam air akibat tsunami setinggi betis orang dewasa. Berbagai peralatan elektronik dan peralatan rumah tangga pun banyak yang rusak.

"Untuk tahun ini, terus terang saja selamat nyawa saja saya dan keluarga sudah gembira, ini jangan dulu kita ambil soal jualan [terompet] dulu, saya pun jadi korban bencana itu," kata dia.

Tak berhenti di situ, usai memastikan seluruh keluarganya selamat, Armin lantas dikabarkan oleh salah satu rekannya bahwa Pasar Labuan terendam air akibat tsunami.

Armin panik, hatinya gelisah. Sebab, seluruh dagangan terompet yang dijualnya diletakkan di salah satu kios di pasar tersebut.

Usai mendengar kabar tersebut, ia bergegas ke Pasar Labuan untuk mengecek keadaan dagangannya. Alhasil, berbagai macam barang dagangannya terhanyut banjir hingga tak bersisa.

"Setelah itu tsunami kan sudah surut sekitar jam 1 pagi, baru saya periksa-periksa barang [di Pasar] paginya, alhasil saya temukan barang-barang saya hanyut semua, sudah enggak tahu pada kemana," kata dia.

Usai kejadian itu, Armin mengaku terpaksa berhutang kepada salah satu juragan yang menjual terompet. Ia menyatakan tetap menjual terompet demi menghidupi keluarganya dirumah.

"Saya bilang ke bos saya, 'bos ini saya sebenarnya mau jualan tapi modal saya habis', ini kan disimpan di sini [di pasar] terompetnya, malah kebawa semua, airnya se-dada saya waktu itu, ini habis semua," kata dia.

Alhasil, modal pun ia dapatkan untuk membeli terompet kembali. Pada tanggal 29 Desember kemarin ia mulai berjualan kembali di Pasar Labuan yang mulai bergeliat usai tsunami.

Armin mengaku hanya bisa menjual tiga terompet sejak berjualan mulai 29 Desember hingga 31 Desember. Bagi Armin penjualan terompet tahun ini tak lagi 'nyaring' seperti tahun sebelumnya.

Dari penjualan itu ia hanya mendapat omzet mencapai Rp35 ribu, atau turun sangat drastis dibandingkan tahun lalu yaitu rata-rata bisa mendapatkan hingga Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per harinya.

"Biasanya 10 kodi sampaiu 15 kodi habis tahun lalu, sekarang baru tiga biji. Biasanya tanggal 25 habis natal baru ada keramaian, sekarang boro-boro," kata dia.

Armin menyadari bahwa masyarakat Labuhan masih berduka dan kegiatan pariwisata masih lumpuh usai bencana tsunami menerjang wilayah tersebut.

Ia pun menyatakan bahwa keluarganya saat ini masih mengandalkan bantuan dari berbagai pihak untuk menyambung hidupnya sementara waktu.

"Lima hari saya enggak ada aktivitas usai tsunami, saya hanya makan mie instan saja buat sementara waktu," kata dia.

Sama seperti Armin, Usman (46) seorang pedagang petasan dan kembang api Pasar Labuhan turut merasakan hal serupa dengan Armin.

"Saya jualan lagi pas tanggal 28 Desember, cuma dapet 80 ribu, itu yang laku cuma petasan banting yang kecil-kecil doang," kata dia.

Usman mengaku kondisi itu terbalik jika dibandingkan tahun lalu. Kala itu, geliat wisata di Labuhan sangat gemerlap ketika tahun baru tiba.

Banyaknya wisatawan yang merayakan tahun baru di Labuhan turut meningkatkan omset dagangan petasannya hingga Rp200.000 perharinya.

"Banyak wisatawan tahun lalu, sekarang boro-boro, dulu banyak beli petasan kembang api," katanya.
(rzr)