Kisah Pengungsi Tsunami dan Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Ramadhan Rizki, CNN Indonesia | Selasa, 01/01/2019 06:30 WIB
Kisah Pengungsi Tsunami dan Tahun Baru Tanpa Kembang Api Pengungsi tsunami Selat Sunda mengadakan istighosah pada malam tahun baru. (CNNIndonesia/Tri Wahyuni)
Pandeglang, CNN Indonesia -- "Ini ga ada kembang api, Pa?" Tanya Ayuni (8) sambil berbaring dengan matanya yang mulai sayup-sayup kepada Ayahnya, Suryana (26) di Posko Induk tsunami Selat Sunda Kementerian Sosial, Labuan, Pandeglang, Banten pada Senin (31/12) malam.

Suryana mengatakan bahwa langit di luar sedang hujan deras. Hal itu ia katakan seraya menghibur anak bungsunya itu agar tak kecewa tahun baru 2019 kali ini dilewatkan tanpa perayaan kembang api yang disukainya itu.

"Yaaah," gumam Ayuni yang seakan kecewa.


Terpantau, hujan deras memang telah mengguyur wilayah Labuan sejak Senin (31/12) sore hingga Selasa (1/1) dini hari.

Suryana bersama istri dan kedua anaknya merupakan salah satu dari ratusan keluarga korban lainnya yang terdampak bencana tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12) malam lalu. Mereka lalu bertahan mendiami posko pengungsian hingga malam tahun baru ini.


Satu keluarga itu sebenarnya memiliki sebuah rumah petak berukuran 15x14 meter persegi di kawasan Kampung Karet, Desa Teluk Labuan, Banten yang kini telah rata dengan tanah akibat terjangan tsunami. Rumah itu diperolehnya dari hasil jerih payah Suryana sebagai nelayan.

Mereka kemudian terpaksa mengungsi ke Posko Induk sejak tanggal 24 Desember lalu untuk mencari bantuan dan tempat sementara untuk berlindung.

Suryana bercerita bahwa ia bersama istri dan kedua anaknya memiliki 'ritual' khusus untuk merayakan pergantian tahun baru ketika bencana belum terjadi.

Tahun-tahun sebelumnya, ia rutin mengajak seluruh keluarganya untuk berkeliling Pantai Caringin dengan sepeda motor. Di pantai itu pula mereka turut membakar kembang api dan meniupkan terompet bersama-sama ketika tahun baru tiba.

"Kami biasa jalan-jalan di pinggir pantai sama keluarga biasanya, ramai-ramai, kami biasanya menyalakan kembang api bersama-sama, kami rayakannya di pinggir pantai," kata Suryana saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Sejumlah rumah warga Kampung nelayan Teluk Labuan porak poranda usai diterjang gelombang tsunami Selat Sunda, Banten ( 25/12).Sejumlah rumah warga Kampung nelayan Teluk Labuan porak poranda usai diterjang gelombang tsunami Selat Sunda. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Hal itu berbeda 180 derajat dengan kondisi yang dirasakannya saat ini. Ia mengaku sangat sedih melihat kondisi keluarganya yang terluntang-lantung di pengungsian tanpa kejelasan nasib.

Yang lebih memilukan lagi, kata Suryana, ia dan keluarganya harus menerima kenyataan pahit merayakan tahun baru di tempat pengungsian.

"Sedih [di pengungsian], biasanya ramai sama keluarga sama teman-teman, ini beda. Biasanya saya ajak anak-anak jalan-jalan. Muter-muter ke pantai," kata dia.

Suryana pun menegaskan bahwa dirinya bersama keluarganya akan tetap berada di pengungsian hingga kondisi alam mulai membaik.

Sebab, ia mengaku masih trauma akan terjadinya tsunami susulan dan adanya imbauan dari pemerintah agar menjauhi bibir pantai.

"Sementara saya di sini dulu, sampai benar-benar aman dan dapat ganti rugi dari pemerintah," kata dia.


Tak hanya Ayuni, Saripah Hanum (14) turut mengatakan terbiasa melewati perayaan tahun baru di rumahnya bersama keluarga besar.

Saat ini ia dan keluarganya turut menjadi korban 'amukan' bencana tsunami dan berada di pengungsian. Saripah pun kini harus menahan kerinduan kenyamanan rumah kala malam pergantian tahun.

"Biasanya di rumah sama ayah dan ibu, kumpul juga sama nini [nenek]," kata dia

Kini, ia harus melewati malam pergantian tahun baru di pengungsian yang dingin karena turunnya hujan deras. "Berduka lah mas kalau sekarang," kata dia.

Tak Ada Perayaan Tahun Baru

Sepi dan sunyi. Itulah dua kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi perayaan tahun baru 2019 bagi para pengungsi tsunami Selat Sunda di Posko Induk Kementerian Sosial, Labuan, Pandeglang, Banten pada Selasa (1/1) dini hari.

Di posko ini, para pengungsi menginap di lapangan futsal berumput sintesis berwarna hijau yang disulap menjadi tempat pengungsian sementara.

Tak ada perayaan istimewa yang dilakukan oleh para pengungsi saat detik-detik waktu menunjukkan pergantian tahun dari 2018 ke 2019.

Lapangan futsal yang dijadikan posko pengungsian di Kecamatan Labuan, Banten, Senin (24/12).Lapangan futsal yang dijadikan posko pengungsian di Kecamatan Labuan, Banten, Senin (24/12). (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)

Tak ada bunyi terompet, tak ada kerlap kerlip kembang api, dan tak ada suka ria yang biasa dirasakan masyarakat Labuan ketika tahun baru tiba. Kemacetan yang biasa terjadi di wilayah Labuan saat tahun baru pun tak terlihat kali ini.

Malam itu, tempat pengungsian hanya dipenuhi oleh suara derasnya hujan yang beradu dengan atap dari seng.

Terlihat pula, sebagian besar pengungsi telah tertidur lelap dengan beralaskan karpet seadanya. Mereka juga tampak mengenakan selimut untuk menutupi diri dari hawa dingin malam yang menusuk.

Sebagian pengungsi lainnya pun nampak masih terjaga dan saling berbincang satu sama lain menghabiskan malam tahun baru sambil berjaga-jaga.

Tampak pula aparat keamanan seperti polisi dan TNI turut berlalu lalang mengamati keadaan sekitar pengungsian.

Di pengungsian yang dikelola oleh Kementerian Sosial ini bermukim sekitar 1.432 pengungsi berdasarkan data pengungsian per 30 Desember 2018. Jumlah tersebut diperkirakan sudah berangsur berkurang. (end)