Menurutnya, masih ada miskomunikasi antara pihak yang rapat bersama KPU dengan juru bicara yang memberi pernyataan ke publik.
"Satu hal yang perlu saya sampaikan memang kita menyadari banyak hal yang terungkap ke publik di dalam pengambilan keputusan yang seharusnya tidak dipublikasikan, terutama dari tim kami juga yang tidak mengikuti proses rapat," kata Aria dalam jumpa pers di Kantor KPU, Jakarta, Senin (7/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ketika informasi beredar di masyarakat, kata Aria, seakan-akan merupakan tindakan plin-plan KPU.
Namun, ada beberapa pihak, seperti Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean, yang mempermasalahkan keputusan itu tanpa koordinasi terlebih dulu.
"Kami mendukung pertanyaan-pertanyaan hebat dari panelis beberapa hari sebelumnya dikirim lewat amplop tertutup kepada masing-masing calon," tutur dia.
"Sementara sampai hari ini saya tidak enak hati kalau KPU di-bully karena mereka telah berikhtiar, tentu tidak adil. Saya harap independensinya [KPU] akan terus bertahan," Priyo menjelaskan.
(arh)