Tren Partisipasi Pemilih Turun, BPN Singgung Fenomena 'Dildo'

CNN Indonesia | Jumat, 11/01/2019 15:31 WIB
Tren Partisipasi Pemilih Turun, BPN Singgung Fenomena 'Dildo' Nurhadi, yang mendadak viral sebagai sosok capres alternatif di pilpres 2019. (CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Dewan Penasihat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hidayat Nur Wahid (HNW) menyoroti faktor yang memengaruhi tren partisipasi pemilih dalam tiap gelaran pemilihan presiden dari tahun ke tahun.

Salah satunya, HNW menyebut tingginya perhatian masyarakat terhadap calon presiden dan calon wakil presiden fiktif Nurhadi-Aldo (Dildo). HNW berpendapat hal itu seharusnya menjadi pelajaran bagi peserta dan penyelenggara pemilu.

"Kalau ini dinilai rakyat enggak ada manfaatnya atau kurang manfaatnya, memang mereka cari altermatif. Alternatifnya bisa jadi golput alternatifnya," tutur HNW di Kompleks Parlemen, Jumat (11/1).


Tren Partisipasi Pemilih Turun, BPN Singgung Fenomena 'Dildo'Foto: ANTARA FOTO/Ismar Patrizki


Penyebab lainnya, kata HNW, tidak sinkronnya janji kampanye calon pemimpin dengan kenyataan ketika sudah terpilih. Menurutnya, hal itu membuat masyarakat golput.

"Masyarakat menjadi apatis ketika melihat dulu kampanye janjinya begitu manis kemudian dipilih eh tidak dilaksanakan. Dikritisi eh ngeles. Terus mereka mengatakan buat apa memilih misalnya," kata HNW yang juga Wakil Ketua MPR ini.


Partisipasi masyarakat dalam Pilpres terus menurun sejak 2009. Dalam Pilpres 2004 79,76 persen masyarakat berpartisipasi. Angka itu menurun menjadi 71,17 persen pada Pilpres 2009 dan semakin menurun menjadi 69,58 persen dalam Pilpres 2014.

Padahal jumlah pemilih kelompok pemula di Indonesia terus bertambah. Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih pemula pada Pemilu 2014 mencapai 20 juta jiwa atau sekitar 11 persen dari total 186 juta jiwa pemilih.

HNW menilai penyelenggara Pemilu seperti KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga memengaruhi partisipasi masyarakat. Ia mencontohkan perkara mengenai pengacungan jari tertentu oleh kepala daerah.

"Ada kepala derah yang acungkan dua jari diperkarakan tapi banyak kepala daerah mengacungkan satu jari tidak diperkarakan. Kayak gini buat orang apatis," tutur Politikus PKS ini.

Diketahui, dalam salah satu kajian, tren penurunan partisipasi pemilih dalam Pilpres mencuat seiring apatisme politik generasi milenial. Padahal, generasi milenial saat ini diklaim sebagai penentu kemenangan paslon di Pilpres 2019.


"(Generasi milenial) Dengan total 80 juta jiwa atau 30 persen dari total pemilih," kata Direktur Indonesia New Media Watch, Agus Sudibyo, beberapa waktu lalu.

Namun demikian, jumlah ini tidak dibarengi dengan minat anak-anak muda untuk terlibat aktif sebagai pemilih dalam tiap kontestasi politik. Dalam survei CSIS pada 2017, survei menyebutkan bahwa generasi milenial lebih tertarik untuk mengakses konten hiburan, teknologi, dan inovasi.

"Mereka (milenial) mengakses internet bukan untuk mengakses berita politik. Kata apolitis mungkin bisa digunakan untuk milenial," ujar Agus.

Dengan sikap apolitis yang dimiliki, kata Agus, pada akhirnya generasi milenial cenderung antipati dengan pemilihan umum. terlebih, sejauh ini media sosial banyak disuguhkan konten-konten hoaks tentang politik.

"Hal ini semakin membuat anak-anak muda, generasi milenial, semakin memilih untuk golput," tegasnya.'

(chri/ain)