Ma'ruf Sebut Petani Tak Dapat Nilai Tambah Kopi dan Cokelat

CNN Indonesia | Minggu, 20/01/2019 17:27 WIB
Ma'ruf Sebut Petani Tak Dapat Nilai Tambah Kopi dan Cokelat Calon Wakil Presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin, dalam kunjungan kampanyenya di Bandung, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Bandung, CNN Indonesia -- Calon wakil presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin, menyatakan bakal memajukan program di bidang pertanian jika terpilih bersama calon presiden petahana Joko Widodo di pilpres 2019.

Hal ini disampaikan Ma'ruf di hadapan warga asal Cigugur Girang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Bandung, Jawa Barat yang mayoritas warganya bekerja sebagai petani, pada Minggu (20/1).

"Nanti masing-masing daerah akan kita dorong supaya maju pertaniannya, sesuai kultur masing-masing. Karena kita daerah agraris, pembangunan pertanian kita utamakan," ujar Ma'ruf.



Meski tak merinci bentuk programnya, mantan Rais Aam PBNU ini mengatakan bahwa setiap hasil pertanian harus memberikan nilai tambah sehingga dapat memberi keuntungan dan manfaat yang besar. Ia mencontohkan salah satunya adalah hasil pertanian berupa kopi.

Ma'ruf menuturkan, ekspor kopi dari Indonesia harganya berkisar Rp75 ribu per satu kilogram. Namun kopi itu kemudian diolah dan dijual kembali ke Indonesia dengan harga mencapai Rp50 ribu per cangkir.

"Kita ingin usaha ke depan agar produk masyarakat dapat diberi nilai tambah. Jadi harus diubah pemikiran itu agar nilai tambah bisa diberikan ke petani kita," katanya.

Hal serupa juga terjadi pada produksi cokelat di Indonesia. Ma'ruf menyebut harga jual cokelat umumnya Rp1.000 per kilogram. Namun ketika diekspor dan menjadi produk cokelat yang harganya naik. Produk itu kemudian dijual lagi ke Indonesia dengan harga Rp20 ribu.


"Kita jual seribu, beli Rp20 ribu. Ada nilai tambah Rp19 ribu tapi yang dapat bukan rakyat Indonesia, bukan petani cokelat, tapi orang lain. Maka nilai tambah ini yang harus kita tambah ke petani kopi maupun cokelat," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Ma'ruf juga menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dari warga Cigugur Girang, Bandung Barat. Bandung Barat dan sejumlah wilayah Jawa Barat merupakan kandang suara bagi calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Dalam pilpres 2014, Jokowi yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla kalah suara dengan Prabowo-Hatta Rajasa. Namun ia meyakini dukungan warga Jabar akan beralih padanya dan Jokowi dalam pilpres 2019.

"Saya percaya bukan hanya warga Cigugur Girang, tapi warga Jabar semua 'ngahiji' di nomor hiji," ucapnya.

(psp)