Jokowi Beri Remisi 115 Narapidana, Termasuk Pembunuh Wartawan

CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 21:37 WIB
Jokowi Beri Remisi 115 Narapidana, Termasuk Pembunuh Wartawan Ilustrasi pemberian remisi. (ANTARA FOTO/Syifa yulinnas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan remisi kepada 115 narapidana yang divonis seumur hidup, termasuk pembunuh wartawan Bali. Setelah mendapat remisi, hukuman para narapidana itu berubah menjadi 20 tahun penjara.

Remisi diberikan lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 29 Tahun 2018 tentang Pemberian Remisi Berupa Perubahan Dari Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Penjara Sementara.

"Iya ada [Keppres itu], yang dapat remisi perubahan dari pidana seumur hidup ke pidana sementara sebanyak 115 orang," kata Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Ade Kusmanto kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/1).


Ade menyatakan 115 narapidana yang mendapat remisi perubahan itu mendekam di sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Namun, Ade menolak memberikan rincian nama narapidana yang mendapat 'pengampunan' dari orang nomor satu di Indonesia itu.

Ade menjelaskan remisi perubahan ini diberikan kepada narapidana yang divonis seumur hidup. Menurutnya, para narapidana yang mendapat hukuman seumur hidup akan berubah menjadi 20 tahun penjara.

"Itu remisi perubahan. Jadi mengubah dari yang pidana seumur hidup menjadi pidana sementara. Pidana sementara itu tidak seumur hidup lagi, tapi menjadi 20 tahun," ujarnya.

Presiden Jokowi disebut sudah mengeluarkan keputusan presiden tentang pemberian remisi kepada 115 napi yang divonis seumur hidup.Presiden Jokowi disebut sudah mengeluarkan keputusan presiden tentang pemberian remisi kepada 115 napi yang divonis seumur hidup. (CNN Indonesia TV)
Ade mengatakan dari 115 narapidana yang mendapat remisi perubahan itu tak ada dari kasus tindak pidana korupsi. Ia menyatakan seluruh narapidana tersebut terjerat kasus tindak pidana umum.

"Tidak ada [napi kasus korupsi], pidana umum semua," kata Ade.

Namun, Keppres Nomor 29 Tahun 2018 yang diteken Jokowi pada Desember 2018 itu belum dimuat di laman ttps://jdih.setneg.go.id.


Jokowi Beri Remisi pada 115 Napi, Termasuk Pembunuh Wartawan

Protes Remisi


Namun, pemberian remisi perubahan terhadap 115 narapidana itu mendapat kecaman dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar. Sebab, di antara nama-nama napi yang mendapat remisi itu terdapat nama I Nyoman Susrama, terpidana kasus pembunuh wartawan Radar Bali, Jawa Pos Grup, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa.

"Pemberian remisi perubahan dari seumur hidup menjadi 20 tahun ini bisa melemahkan penegakan kemerdekaan pers, karena setelah 20 tahun akan menerima remisi dan bukan tidak mungkin nantinya akan menerima pembebasan bersyarat," kata Ketua AJI Denpasar, Nandhang R. Astika lewat keterangan tertulis.

Nandhang menyatakan keputusan Jokowi memberikan remisi perubahan kepada Susrama langkah mundur penegakan kemerdekaan pers. Menurutnya, pengungkapan kasus pembunuhan wartawan di Bali, pada 2010 itu menjadi tonggak penegakan kemerdekaan pers di Indonesia.

"Ini karena sebelumnya tidak ada kasus kekerasan terhadap jurnalis yang diungkap secara tuntas di sejumlah daerah di Indonesia, apalagi dihukum berat," ujarnya.

AJI Denpasar, kata Nandhang, sangat menyesalkan pemberian remisi perubahan kepada Susrama itu. Nandhang menyebut seharusnya terdapat catatan maupun koreksi baik dari Kementerian Hukum dan HAM serta tim ahli hukum presiden sebelum remisi perubahan itu diberikan.

"Untuk itu AJI Denpasar menuntut agar pemberian grasi kepada otak pembunuhan AA Gde Bagus Narendra Prabangsa untuk dicabut atau dianulir," kata dia.

Pemberian remisi perubahan kepada sejumlah narapidana ini berdasarkan Keppres Nomor 174 Tahun 1999 tentang Remisi. Syarat napi yang divonis seumur hidup agar mendapat remisi itu di di antaranya adalah sudah menjalani masa tahanan minimal lima tahun, berkelakuan baik, dan ditetapkan dengan keputusan presiden.

(fra/arh)