Orang Utan di Aceh 6 Bulan Makan Sisa Majikan di Kandang Ayam

CNN Indonesia | Rabu, 23/01/2019 19:30 WIB
Orang Utan di Aceh 6 Bulan Makan Sisa Majikan di Kandang Ayam Anak orangutan (Pongo Abelii) berhasil dievakuasi di kawasan Gampong Paya, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh. Orangutan yang diberi nama Sapto tersebut, dipelihara di kandang ayam oleh oknum pejabat salah satu instansi di Aceh. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seekor anak Orang Utan di Gampong Paya, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh, ditemukan dalam kondisi kekurangan nutrisi karena diduga mendapat perlakuan buruk dari majikannya.

Anak orang utan bernama Sapto mengalami malnutrisi setelah enam bulan dipelihara di kandang ayam, dengan diberi makanan manusia, termasuk sisa makan majikannya. Sapto akhirnya berhasil dievakuasi Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC).

Ketua YOSL-OIC, Panut Hadisiswoyo, mengatakan evakuasi orang utan berusia dua tahun itu dilakukan setelah pihaknya mendapat informasi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA).


"Pemiliknya menganggap orang utan makhluk yang lucu. Jadi pemiliknya membeli Sapto dari seorang warga di sana sekitar 6 bulan lalu. Jadi memang dari ladang dibelinya. Kemudian dibawa ke rumahnya," ujar Panut, Rabu (23/1).


Selama 6 bulan itu, Sapto mendapat perlakuan memprihatinkan oleh majikannya yang diketahui merupakan pejabat di dewan permusyawaratan ulama Aceh tersebut. Satwa yang sangat terancam punah itu ditempatkan di sebuah kandang ayam karena sang pemilik juga punya usaha ayam potong.

"Orang utan ini dirawat layaknya manusia. Makan nasi, lauk pauk, hingga sisa makanan dari pemiliknya. Sehingga dia kekurangan nutrisi. Apalagi orang utan ini ditempatkan di kandang ayam," kata Panut.

Mendapat informasi adanya warga yang memelihara hewan dilindungi, YOSL-OIC langsung bergerak bersama petugas BBKSDA dan Polres setempat. Pemilik sempat menolak saat Sapto disita. Belakangan pemiliknya bersedia menyerahkan Sapto asalkan diberi ganti rugi uang perawatan.

"Setelah perbincangan panjang, akhirnya pemiliknya bersedia menyerahkan orang utan ini. Mereka mengira senang sekali memelihara orang utan. Dianggap lucu saat kecil," kata dia.


Sapto akhirnya dibawa ke Medan meninggalkan kandang ayam yang dihuninya selama 6 bulan terakhir. Selama perjalanan tidak ada kendala apapun. Sapto diletakkan dalam boks khusus. Meski malnutrisi, Sapto bisa bertahan dalam perjalanan.

"Dari analisis sementara lokasi ditemukan orang utan, memang dekat dengan habitatnya karena berbatasan langsung dengan Kabupaten Nagan Raya. Dulunya kawasan tersebut adalah hutan gambut rawa tripa. Populasi orang utan di sana mencapai 3.000 ekor. Kini jumlahnya diprediksi tinggal 200 ekor lagi. Ada ekspansi sawit secara masif. Habitat orang utan tergusur," ucap Panut.

Pada 2019, ancaman kepunahan terhadap orangutan kian meningkat. Bukaan hutan diprediksi akan semakin banyak sehingga mengancam habitat orangutan. Selama 2018, ada sembilan orangutan yang dievakuasi YOSL-OIC di Sumatera Utara. Baik yang korban konflik, ataupun sitaan.

"Memelihara orang utan berdampak buruk pada spesies mamalia itu. Dari banyak kasus, orang utan seakan asing dengan habitat aslinya karena terlalu lama dipelihara. Orang utan yang lama dipelihara, ketakutan saat dibawa ke konservasi. Kakinya gemetaran, malah lebih berani ketika berhadapan dengan manusia," bebernya.

Terpisah, Zulhilmi, dokter hewan dari YOSL-OIC yang ikut dalam proses evakuasi mengatakan, Sapto akan ditempatkan di karantina The Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) di Batumbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang.

"Kita akan periksa kesehatannya secara panjang. Karena kondisinya malnutrisi. Asupan makanannya sangat sedikit. Tapi hasil pengamatan awal, anak orangutan jantan ini tampak normal pada bagian fisik luarnya. Tidak ada bekas luka di tubuhnya," urainya.



(fnr/ain)