Romi soal Manfaat Ahok untuk Jokowi: Lebih Banyak Defisitnya

wis, CNN Indonesia | Jumat, 25/01/2019 18:50 WIB
Romi soal Manfaat Ahok untuk Jokowi: Lebih Banyak Defisitnya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Partai Persatuan Pembangunan Romarhumuziy menyatakan sosok Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bisa saja dilibatkan partai pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin dalam kontestasi Pemilu 2019. Namun pelibatannya terbatas di Pileg, bukan di Pilpres 2019.

Romi, sapaan karibnya menyebut semua partai pendukung Jokowi-Ma'ruf sepakat tidak akan memanfaatkan Ahok di Pilpres 2019 karena lebih banyak mendatangkan defisit ketimbang surplus elektoral untuk pasangan nomor urut 01 itu.

"Penilaian kita, dampak positif negatifnya itu defisit untuk paslon ini. Jadi, overall-nya, lebih banyak defisitnya ketimbang surplusnya," kata Romi dalam program 'Layar Pemilu Tepercaya' di CNN Indonesia TV, kemarin.


Romi berkata penilaian dampak Ahok itu berdasarkan pemetaan sosial media dengan menggunakan perhitungan dan metode ilmiah.

Dari pemetaan itu, Romi menuturkan Jokowi berpotensi mendulang suara jika melibatkan Ahok. Namun hasil pemetaan juga menunjukkan ada potensi defisit suara di saat yang bersamaan.

"Melalui ukuran ilmiah dan berbagai metode, apa yang kita lakukan dampak negatif lebih besar dari dampak positif yang tercipta. Saran kita, dari pada dapat suara di sini tapi yang di sana hilang, ya sudahlah kita gak dapat suara di sini, tapi yang lain tidak berkurang," kata Romi.

Romi soal Manfaat Ahok untuk Jokowi: Lebih Banyak DefisitnyaKetua PPP Romarhurmuziy. (CNN Indonesia/Mesha Mediani)
Jokowi disebut Romi juga belum akan bertemu Ahok. Dia menyadari hal itu bisa saja menimbulkan kekecewaan di kalangan pendukung Jokowi yang juga mendukung Ahok. Namun Romi kembali menegaskan ada pertimbangan dampak negatif yang harus diperhitungkan dalam menyikapi Ahok.

Dampak negatif itu tak lepas dari label yang melekat pada Jokowi. Kata Romi, ada empat label yang dilekatkan pada Jokowi dan belum berubah sampai saat ini. Label itu adalah antek asing; antek aseng; komunis; dan anti-Islam.

"Perkembangan dari anti-Islam ini kan persekusi ulama, penistaan agama, dan Ahok masuk ke dalam salah satu temanya. Ini kan harus kita mitigasi," ujar Romi.

Berbagai pertimbangan itu disebut Romi tak berarti Jokowi tak lagi berkawan dengan Ahok. Dia menegaskan secara politik, hubungan Jokowi dan Ahok baik-baik saja.

"Karena Ahok ketika mendapat vonis itu tidak mengata-ngatai Pak Jokowi," ujar dia.

Ahok dan Jokowi memang dikenal dekat. Keduanya pernah sama-sama memimpin Jakarta hasil Pilgub 2012. Pada 2014, Ahok menjadi Gubernur DKI menggantikan Jokowi yang memenangkan Pilpres 2014.

Ahok tersandung kasus penistaan agama pada 2017 silam. Dia pun divonis bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Mei 2017 dan harus menjalani hukuman dua tahun penjara hingga akhirnya bebas murni pada Kamis (25/1) kemarin. (wis)