Hal itu disampaikan Ma'ruf saat menghadiri peluncuran buku dirinya yang berjudul 'The Ma'ruf Amin Way', di Gedung Smesco Tower, Jakarta, Jumat (1/2).
Ma'ruf menyatakan banyak kebijakan yang dikeluarkan pada saat itu berpihak pada kaum konglomerat ketimbang memberdayakan ekonomi kaum lemah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ma'ruf lantas berjanji untuk mendistribusikan kesejahteraan bagi masyarakat kelas bawah agar kekayaan tak hanya berputar di kalangan kelompok orang-orang kaya bila terpilih di Pilpres 2019.
Ia menjamin konsep ekonomi kerakyatan itu tak akan melemahkan kelompok-kelompok kuat atau kaya.
Akan tetapi, kata dia, kelompok kuat harus memiliki kemauan untuk berkolaborasi dengan kelompok lemah dalam membangun ekonomi berbasis kesejahteraan tersebut.
"Sehingga yang kuat tetap kuat, yang lemah menjadi kuat, ini yang kita inginkan itu. Sehingga negara ini menjadi kuat maka dari itu ada kemauan kesungguhan dari kelompok ekonomi kuat itu untuk mengambil peran di dalam rangka berkolaborasi bermitra bersinergi dengan kelompok ekonomi lemah," kata dia.
Kesenjangan ekonomi sendiri diukur lewat rasio gini dengan skala 0-1. Semakin mendekati 1 maka semakin timpang ekonominya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rasio gini di Indonesia pada September 2018 mencapai 0,384, atau menurun dari angka pada Maret 2018 yang mencapai 0,389.
(rzr/arh)