Ma'ruf Amin Singgung Petunjuk Islam Agar Kekayaan Bisa Merata

CNN Indonesia | Jumat, 01/02/2019 15:57 WIB
Ma'ruf Amin Singgung Petunjuk Islam Agar Kekayaan Bisa Merata Cawapres Ma'ruf Amin menyoroti kebijakan ekonomi masa lalu yang hanya menguntungkan konglomerat. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin menyebut kesenjangan ekonomi saat ini merupakan warisan dari kebijakan ekonomi masa lalu yang menggunakan teori trickle down effect atau efek menetes ke bawah

Hal itu disampaikan Ma'ruf saat menghadiri peluncuran buku dirinya yang berjudul 'The Ma'ruf Amin Way', di Gedung Smesco Tower, Jakarta, Jumat (1/2).

Ma'ruf menyatakan banyak kebijakan yang dikeluarkan pada saat itu berpihak pada kaum konglomerat ketimbang memberdayakan ekonomi kaum lemah.


"Menurut pengamatan saya karena dari situlah dengan menggunakan teori trickle down effect. Teori ini kemudian mengharapkan lahirnya konglomerat yang kemudian nanti [kekayaannya] menetes ke bawah, ternyata tidak netes-netes," ungkapnya.

Ma'ruf lantas berjanji untuk mendistribusikan kesejahteraan bagi masyarakat kelas bawah agar kekayaan tak hanya berputar di kalangan kelompok orang-orang kaya bila terpilih di Pilpres 2019.

"Karena itu menurut saya, dalam ajaran Islam ada petunjuk, [kesejahteraan] jangan berputar di kalangan orang kaya saja, harus terdistribusi sampai ke seluruh masyarakat," kata Ma'ruf.

Mantan Rais Aam PBNU itu menyatakan pengurangan ketimpangan bisa terwujud melalui perubahan yang fundamental melalui penguatan program ekonomi berbasis kerakyatan.

Ia menjamin konsep ekonomi kerakyatan itu tak akan melemahkan kelompok-kelompok kuat atau kaya.

Akan tetapi, kata dia, kelompok kuat harus memiliki kemauan untuk berkolaborasi dengan kelompok lemah dalam membangun ekonomi berbasis kesejahteraan tersebut.

Dengan begitu, Ma'ruf menyatakan kolaborasi pemberdayaan ekonomi diharapkan bisa menyempitkan kesenjangan seluruh lapisan masyarakat.

"Sehingga yang kuat tetap kuat, yang lemah menjadi kuat, ini yang kita inginkan itu. Sehingga negara ini menjadi kuat maka dari itu ada kemauan kesungguhan dari kelompok ekonomi kuat itu untuk mengambil peran di dalam rangka berkolaborasi bermitra bersinergi dengan kelompok ekonomi lemah," kata dia.

Kesenjangan ekonomi sendiri diukur lewat rasio gini dengan skala 0-1. Semakin mendekati 1 maka semakin timpang ekonominya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rasio gini di Indonesia pada September 2018 mencapai 0,384, atau menurun dari angka pada Maret 2018 yang mencapai 0,389.

(rzr/arh)