TKN Sindir Prabowo Tak Mampu Tampilkan Narasi Terbaik

CNN Indonesia | Sabtu, 02/02/2019 02:37 WIB
TKN Sindir Prabowo Tak Mampu Tampilkan Narasi Terbaik Sekretaris Jenderal PKB Abdul Kadir Karding. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding menyindir elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang cenderung stagnan dan selalu berada di bawah pasangan Jokowi-Ma'ruf.

Menurut Karding pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tak memiliki narasi menarik untuk menggaet simpati masyarakat selama masa kampanye Pilpres 2019.

Hal itu ia katakan untuk merespon hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA beberapa waktu lalu yang menyatakan pasangan Jokowi-Ma'ruf ungguli jauh Prabowo-Sandiaga.


Faktor itu, kata Karding, yang menyebabkan Prabowo-Sandiaga tak kunjung berhasil menyalip elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sepanjang kampanye Pilpres kali ini

"Selama model kampanye dan narasi yang dibangun seperi itu-itu saja, maka tidak akan banyak perubahan," kata Karding saat dihubungi, Jumat (1/2).

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei terbaru capres-cawapres 2019 usai debat perdana dilaksanakan pada 17 Januari lalu. Hasilnya, elektabilitas paslon Jokowi-Ma'ruf Amin sebesar 54,8 persen, sementara elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 31,0 persen.

Sedangkan survei Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) pada 8-14 Januari 2019, menunjukkan tingkat elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf berada pada 45,90 persen, dan Prabowo-Sandiaga 41,80 persen.

Lebih lanjut, politikus PKB itu menilai stagnannya elektabilitas Prabowo-Sandiaga karena masyarakat sudah tahu betul watak kepemimpinan pasangan tersebut.
Oleh karenanya, kata dia, elektabilitas pasangan tersebut tak pernah menyusul Jokowi-Ma'ruf bahkan tergolong stagnan.

"Masyarakat sudah memahami siapa mereka sesungguhnya," ujarnya.

Selain itu, Karding berpendapat hasil survei LSI yang menyebut Jokowi-Ma'ruf selalu unggul dari Prabowo-Sandiaga. Sebab, ia menyatakan Jokowi-Ma'ruf lebih berkomitmen kepada masyarakat ketimbang Prabowo-Sandiaga.

"(Prabowo) berbeda dengan Pak jokowi yang menperlihatkan bukti dan komitmen yang kuat untuk membangun dan memperbaiki Indonesia," ujar Karding.

Sementara, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno mengatakan terlalu terburu-buru bila menilai peningkatan elektabilitas kedua pasangan calon hanya dari debat pertama.

Sebab, kata dia, debat capres cawapres perdana lalu tidak cukup memuaskan masyarakat, terutama yang belum menentukan pilihan (undecided voter).

"Kalau ukurannya debat saya kira terlampau buru-buru ya, apalagi debat pertama ini dilihat agak sedikit hambar, normatif dan kurang greget," jelas Adi.

Namun, Adi mengamini jika Jokowi lebih unggul di debat perdana. Kata Adi, Jokowi lebih baik ketimbang Prabowo. dari aspek penguasaan materi dan persoalan faktual.

"Prabowo ingin tampil manis tapi tidak tahu apa-apa. Banyak out off context jawabannya. Pak Prabowo kemarin hanya ingin terlihat manis, tidak kelihatan sangar," ujar Adi.

Disisi lain, Adi menilai Prabowo tidak menampilkan kepribadiannya sesungguhnya yang 'berapi-api' dan kerap memunculkan ekspresi emosi selama debat perdana.

Ia menilai Prabowo justru menampilkan citra ketenangan yang sejatinya tidak pernah dilakukan selama ini.

"Keliatan sekali dia terlalu menahan diri banget. Ketika moderator bilang tidak boleh nanggapin. Keliatan banget dia joget-joget. Itu ekspresi kemarahan yang terpendam sebetulnya," kata Adi.
(rzr/ugo)