PDIP Sebut Isu Elektabilitas Turun di Jateng sebagai Motivasi

CNN Indonesia | Minggu, 03/02/2019 16:20 WIB
PDIP Sebut Isu Elektabilitas Turun di Jateng sebagai Motivasi Konsolidasi Pemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin. (CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengakui ada penurunan tingkat elektabilitas pasangan calon Jokowi-Ma'ruf Amin di Jawa Tengah. Hal ini mengonfirmasi pernyataan Jokowi ketika bertemu Paguyuban Pengusaha Jawa Tengah (PPJT), di Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu (2/2) kemarin.

Meski begitu, Hasto kemudian mengatakan pernyataan calon presiden petahana soal penurunan elektabilitas memang sengaja diungkapkan ke hadapan publik sebagai strategi untuk menggenjot militansi dukungan di salah satu basis kekuatan pasangan capres-cawapres tersebut.

"Itu kan hanya sebuah cara untuk memberikan motivasi agar semua menyiapkan diri," ucapnya usai menghadiri deklarasi dukungan alumni Kolese Kanisius untuk Jokowi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (3/2).



Menurut dia, Jokowi sengaja membeberkan data tersebut agar dukungan masyarakat tetap mengalir dan bisa membuat target elektabilitas mencapai 80 persen di Jawa Tengah bisa dikantongi kubu Jokowi-Ma'ruf.

Lebih lanjut, ia mengatakan meski ada penurunan elektabilitas sebesar 2 persen dari 67 persen menjadi 65 persen di Jawa Tengah, namun hasil survei internal kubu capres-cawapres nomor urut 01 menunjukkan bahwa elektabilitas masih cukup solid di provinsi tersebut.

Bahkan, sambungnya, elektabilitas di beberapa daerah pemilihan (dapil) di Jawa Tengah tetap menunjukkan peningkatan bila dibandingkan era 1999.

Ia mencontohkan, suara PDIP menembus 61 persen di Solo, Jawa Tengah yang merupakan dapil dari Puan Maharani, calon legislatif dari PDIP yang kini masih menduduki jabatan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) di Kabinet Kerja.

"Sehingga kami lihat apa yang disampaikan Pak Jokowi hanya sebagai cara membangun semangat militansi," katanya.


Hasto Kristyanto. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Di sisi lain, Hasto mengatakan secara nasional, hasil survei internal kubu Jokowi-Ma'ruf mencatat tingkat elektabilitas masih berjarak sekitar 20,3 persen. Lalu, ia mengklaim elektabilitas kubu pasangan nomor urut 01 sebesar 60,3 persen di media sosial.

"Dalam situasi seperti ini, klaim itu biasa. Tapi bagi kami, apa gagasan dari Pak Prabowo dan Pak Sandi? Setiap ada pertemuan, kami selalu bertanya sebutkan tiga keberhasilan Pak Prabowo tapi banyak yang kesulitan (menjawab) soal itu," tuturnya.

Sebelumnya, Jokowi menyatakan elektabilitas dirinya bersama Ma'ruf sempat menurun 2 persen pada empat pekan lalu di Jawa Tengah. Jika dikaitkan dengan waktu, empat pekan ke belakang berbarengan dengan peresmian Posko Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi di Kota Solo, Jawa Tengah pada 11 Januari lalu. Posko baru tersebut berada tak jauh dari rumah Jokowi, tepatnya di Jalan Letjen Suprapto No 53A Sumber, Solo.

Jokowi tak menyebut secara lugas angka elektabilitas hasil survei internal tersebut. Mantan Wali Kota Solo itu hanya mengatakan setelah mengundang tim kampanye daerah (TKD) Jawa Tengah ke Jakarta, barulah elektabilitas dirinya dan Ma'ruf berangsur naik kembali.

"Dengan pertemuan ini kita harapkan sebarkan optimisme, sebarkan optimisme, sehingga angka-angka itu sesuai yang kita targetkan," ujar Jokowi.


Jokowi mengatakan tinggal tersisa waktu sekitar dua bulan sebelum masa pencoblosan pemilu serentak yang digelar pada 17 April 2019. Dalam masa yang singkat tersebut, kata dia, setiap elemen masyarakat akan menentukan bakal ke arah mana Indonesia ini akan dibawa. Jokowi pun menghargai kerja keras masyarakat di Jawa Tengah, di mana provinsi itu pun dikenal sebagai 'Kandang Banteng'.

"Saya titip apa adanya, bahwa dalam 2 bulan ini sangat menentukan sekali ke mana arah negara ke depan akan kita bawa," katanya. (uli/ain)