Isu Negatif Netizen soal Jokowi: Ahmad Dhani hingga Mbah Moen

CNN Indonesia | Kamis, 07/02/2019 18:47 WIB
Isu Negatif Netizen soal Jokowi: Ahmad Dhani hingga Mbah Moen 20 persen netizen bicara negatif tentang Jokowi jelang Pilpres 2019. (Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil survei Politicawave menyatakan bahwa isu negatif tentang capres nomor urut 01 Joko Widodo yang paling sering dibicarakan warganet atau netizen di media sosial adalah terkait kasus ujaran kebencian yang sedang menjerat Politikus Gerindra Ahmad Dhani.

Hal itu merupakan hasil riset Politicawave atas percakapan netizen sepanjang 28 Januari hingga 4 Februari lalu. Jika ditotal ada 1.899.881 percakapan netizen, dan 57,25 persen atau 1.087.681 percakapan di antaranya membicarakan Jokowi-Ma'ruf.

Dari 1.087.681 percakapan tentang Jokowi-Ma'ruf, 20 persen atau sekitar  217.536 di antaranya bernada negatif. Angka itu lalu dibedah kembali untuk melihat isu negatif yang paling sering dibicarakan netizen. 


Hasilnya, dari 217.536 percakapan, sekitar 38 persen atau sekitar 82.663 membicarakan kasus hukum Ahmad Dhani. Kasus pendiri Band Dewa 19 itu menjadi isu negatif paling sering diungkit netizen tentang Jokowi-Ma'ruf.

"Isu negatif lain tentang calon petahana yang ramai dibicarakan di media sosial yakni soal pernyataan Jokowi perihal propaganda Rusia 28 persen, doa KH Maimun Zubair untuk Prabowo 25 persen," tutur peneliti Politicawave Yose Rizal di bilangan Cikini, Jakarta, Kamis (7/2).


Menyusul di bawah polemik koreksi doa KH Maimun Zubair atau Mbah Moen oleh Ketum PPP Rhomahurmuziy itu adalah pernyataan Menkominfo Rudiantara yang menyindir gaji pegawai pendukung pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 sebanyak 13 persen.

Setelah Rudiantara, pernyataan kontroversi Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi soal tol Jokowi menjadi percakapan negatif di tingkat paling akhir sebanyak 3 persen. 

Sementara itu, dari 1.087.681 percakapan, 80 persen atau sekitar 870.145 percakapan tentang Jokowi-Ma'ruf bernada positif. Politicawave kemudian membedah lagi anatomi isu positif yang dibicarakan.


Hasilnya, dari 870.145, sebanyak 27 persen atau sekitar 234.939 percakapan netizen membicarakan tentang kebersamaan keluarga Jokowi. Isu tersebut adalah yang tertinggi dibanding isu positif lain tentang Jokowi-Ma'ruf.

Isu positif lain yang juga banyak dibahas netizen antara lain tentang deklarasi dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf dari sejumlah pihak 22 persen, Pertemuan dengan ulama dan santri 21 persen. Kemudian, dan Pembangunan desa 16 persen. Isu Pembangunan infrastruktur hanya dibicarakan netizen sebanyak 14 persen. 

Jokowi-Ma'ruf Favorit Netizen

Politicalwave merilis Jokowi-Ma'ruf merupakan kandidat capres-cawapres terfavorit bagi netizen. Mereka mengalahkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan selisih angka sekitar 15 persen. 

"Kalau yang saya paparkan dari tadi, suara netizen saat ini 57,25 persen ke Paslon 01, ke Paslon 02 42,75 persen," kata Yose.


Angka-angka tersebut berasal dari analisa terhadap percakapan netizen di media sosial sepanjang 28 Januari-4 Februari. Total percakapan netizen yang diriset sebanyak 1.899.881. Dari angka tersebut, 57,25 persen netizen membicarakan Jokowi-Ma'ruf. Sisanya, yakni 42,75 persen, netizen menyinggung Prabowo-Sandi. 

Merujuk dari hasil survei, Yose mengatakan sebanyak 80 persen dari total percakapan Jokowi-Ma'ruf bernada positif. Kemudian 20 persen di antaranya bernada negatif. 

Lalu, netizen yang membicarakan isu positif tentang Prabowo Sandi sebanyak 74 persen dari total percakapan yang menyinggung Paslon 02 tersebut. Sisanya, yakni 26 persen, mengungkit isu negatif. 

Total akun yang dianalisa Politicawave sebanyak 267.059 buah dari Facebook, Twitter, YouTube, forum online dan media online. Akun yang membicarakan Jokowi-Ma'ruf berjumlah 61,25 persen. Lebih banyak dibanding akun yang membicarakan Prabowo-Sandi, yaitu 38,75 persen. 

"WhatsApp dan telegram tidak termasuk karena itu private messenger," ucap Yose. 


Yose mengklaim pihaknya menganalisa data dengan mengeluarkan akun palsu terlebih dahulu. Dengan demikian, survei benar-benar dilakukan terhadap akun asli.

Yose lalu mengatakan pihaknya tidak bisa menyimpulkan di platform media sosial apa Jokowi-Ma'ruf unggul. Menurut dia, hasil survei menyatakan cukup merata dan paling dominan adalah Facebook dan Twitter. 

"Tapi kalau politik, banyak sekali percakapan terjadi di Twitter karena sifatnya lebih simpel, mudah buat diskusi, pasangan Jokowi-Ma'ruf cukup merata khususnya di Twitter dan Facebook," kata Yose.

Hal serupa juga ditemui di segmen percakapan terkait Prabowo-Sandi. Yose mengatakan Twitter merupakan platform media sosial yang paling sering digunakan.

Yose kemudian menegaskan bahwa hasil survei yang dilakukan pihaknya bisa dijadikan prediksi partisipasi politik masyarakat saat ini.

 
Dia mengamini survei yang dilakukan Politicawave tak sama dengan survei pada umumnya. Misalnya ketika ada lembaga yang melakukan survei tatap muka terhadap 1.000 responden. Politicawave, lanjutnya, memang tidak menerapkan metode demikian.

Namun, Yose mengatakan bahwa sampel percakapan yang diambil untuk dianalisa pun sangat banyak. Satu isu saja, kata Yose, bisa dibicarakan lebih dari seribu akun di media sosial. 

"Jadi sebesar itu kemungkinan untuk salah bareng kecil. Jadi semakin besarnya mereka semakin mengoreksi," ujar Yose. 

Hal lain yang dipaparkan Yose yakni soal ketepatan survei pihaknya pada Pilpres 2014 lalu. Dia mengatakan Politicawave kala itu memprediksi Jokowi-Jusuf Kalla yang akan memenangkan pilpres. Tentu berdasarkan aktivitas masyarakat di media sosial. 

"Ya kita ini dengan empirik bahwa dari banyak election yang sudah kita monitor, sudah kita prediksi hasilnya sesuai," ucap Yose. 

(bmw/DAL)