Analisis

Habis Alumni 212 Terbitlah Alumni Sekolah

CNN Indonesia | Jumat, 08/02/2019 17:05 WIB
Habis Alumni 212 Terbitlah Alumni Sekolah Kelompok massa bernama Alumni Menteng 64 mendeklarasikan dukungan terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi ramai-ramai kelompok alumni mendukung salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden di Pilpres 2019 tak hanya terjadi di kalangan perguruan tinggi. Fenomena ini juga 'mewabah' di lingkungan alumni sekolah menengah.

Sejumlah lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) di berbagai daerah di Indonesia mulai menyatakan dukungan terhadap pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Dukungan tersebut dinyatakan dalam berbagai acara deklarasi yang diadakan sejak awal Februari ini.

Pada 3 Februari 2019, sekelompok orang yang mengatasnamakan alumni sekolah Kolese Kanisius yang tergabung dalam Alumni Menteng 64 memberikan dukungannya kepada paslon nomor urut 01. Acara tersebut dihadiri Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wnandi, Menteri Perindustrian seklaigus Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto dan Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita.




Habis Alumni 212 Terbitlah Alumni SekolahKelompok massa bernama Alumni Menteng 64. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Pada hari yang sama, Alumni SMA se-Jakarta juga dikabarkan bakal mendeklarasikan dukungannya pada 10 Februari mendatang. Pada 6 Februari, gelombang dukungan hadir dipimpin Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Rosan Roslani yang pada waktu itu menggaet sejumlah alumni SMA Pangudi Luhur (PL). Seperti diketahui, PL merupakan sekolah asal cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno.

Direktur Populi Center Usep S Ahyar menilai dukungan alumni bisa jadi mengancam proses demokrasi menjelang Pilpres 2019. Menurut dia, mobilisasi alumni-alumni sekolah hanya akan menghadirkan dukungan yang instan.

Semestinya, para alumni sekolah--sebagai kalangan yang dinilai menengah ke atas, kata dia, menjadi subjek pendidikan bagi masyarakat dan memberi masukan para kubu kontestan pilpres untuk mengembangkan argumentasi, kritik dan saran membangun.

"Semestinya itu yang perlu dikedepankan dibandingkan pernyataan dukung-mendukung," kata Usep saat dihubungi, Jumat (8/2).


Tandingan Alumni 212
Usep menilai usaha paslon nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf dalam meraih dukungan alumni kampus atau sekolah sangat mungkin diterjemahkan sebagai upaya menandingi alumni-alumni organisasi Islam seperti Persaudaraan Alumni 212 yang mendukung paslon nomor urut 02 Prabowo-Subianto.

Menurut dia, dukungan alumni sekolah bisa dibandingkan dengan alumni berbasis organisasi agama dalam dua hal. Yang pertama, citra kaum terdidik yang rasional ini menandingi ideologi organisasi Islam. Hal ini menjadi ceruk pemilih yang dinilai sangat strategis bagi kubu Jokowi.

Sedangkan yang kedua, kata Usep, kalangan alumni yang juga dianggap aktif dalam penggunaan media sosial. Menurut Usep, alumni berbasis organisasi agama di kubu paslon nomor urut 02 juga aktif dalam menyatakan argumen-argumennya di media sosial. Kedua kubu jelas bisa mempengaruhi masyarakat lewat instrumen tersebut.

"Sementara kita tahu proses penyebaran transformasi 212 itu banyak melalui media sosial," ujarnya.

Habis Alumni 212 Terbitlah Alumni SekolahReuni Akbar Aksi 212. (CNN Indonesia/Harvey Darian)

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai dukungan 'kalangan terdidik' dianggap strategis karena kalangan tersebut dianggap lebih objektif dan rasional. Adi mengatakan, paslon pilpres memahami bahwa penting mengajak kelompok tersebut dalam upaya menempatkan isu ekonomi dan pembangunan.

Namun, Adi pun menyayangkan upaya menarik masyarakat kalangan terdidik ini tidak dimanfaatkan untuk menyentuh persoalan dan menciptakan solusi untuk rakyat.

"Selama ini saya melihat ada suatu kecenderungan alumni lebih sebagai upaya pemanis pemenangan demokrasi. Jadi tidak digunakan untuk menggarap masyarakat yang ada di bawah. Jadi kelihatannya hanya ingin terlihat gagah saja," ujar Adi.

Adi menilai adanya penyakit 'elitisme' di kalangan intelektual menyebabkan diskusi-diskusi mereka terbatas pada pembahasan wacana. Padahal, semestinya, kalangan tersebut bisa lebih memiliki kapasitas dalam mencari solusi untuk permasalahan yang ada di masyarakat.

"Posisi mereka ini kerap berjarak dengan rakyat yang seharusnya mereka yakinkan. Mengajak alumni semestinya bukan sebatas mengajak," ucapnya.


Pendidikan politik di sekolah
Pemerhati pendidikan Doni Koesoema menilai tidak ada persoalan dengan adanya alumni yang menyatakan dukungan ke paslon manapun. Kata dia, hal ini justru membantu perkembangan pendidikan politik di sekolah-sekolah.

Menurut Doni, apabila dibarengi dengan informasi yang benar, maka peserta didik pun bisa menjadi pemilih cerdas.

"Ini akan menjadi pendidikan politik yang baik karena peserta didik bukan hanya dapat teori, tapi juga cerita yang berbasis pengalaman dari para politisi," ucap dia melalui pesan singkat.

Terkait fungsi sekolah, Doni juga menganggap tidak ada masalah. Doni menjelaskan, kelompok alumni bukan tergabung dalam satuan pendidikan. Hal ini pun tidak akan mempengaruhi proses mendidik karena tidak ada satuan pendidikan yang menunjukkan kecenderungannya mendukung paslon tertentu.

"Yang penting acara ini bukan SMA sebagai satuan pendidikan yang mengadakan," ujarnya.


Namun Doni mengingatkan jangan sampai ada satuan pendidikan yang ikut menunjukkan kecondongannya dalam berpolitik. Dia khawatir hal tersebut akan menyebabkan pendidikan politik meleset dari tujuan.

Soal pendidikan politik, kata Doni, satuan pendidikan boleh mengundang pembicara yang netral untuk memberikan materi atau sosialisasi. Pun pihak sekolah bisa mengundang kedua kubu paslon untuk pengetahuan akan pilpres.

Namun, Doni mewanti-wanti satuan pendidikan tidak boleh memiliki kecondongan pada suatu kubu, sebab hal itu akan mempengaruhi cara atau metode penyampaian materi yang disampaikan pihak yang diundang sekolah.

"Kalau satuan pendidikan sudah berpihak, acara pendidikan politik tak akan sampai pada tujuan dan jatuh pada kampanye dangkal," kata Doni.

(ani/ain)