Istana soal Jumatan Prabowo: Masjid Tak Bisa Diintervensi

CNN Indonesia | Kamis, 14/02/2019 18:40 WIB
Istana soal Jumatan Prabowo: Masjid Tak Bisa Diintervensi Tenaga ahli di KSP Ali Mochtar Ngabalin membantah tudingan bahwa pemerintah di balik keberatan pengurus Masjid Kauman Semarang soal Prabowo salat Jumat di sana dan mengundang massa. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin membantah kecurigaan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah soal larangan salat Jumat calon presiden nomor 02 Prabowo Subianto di Masjid Kauman, Semarang, Jawa Tengah,

Fahri sebelumnya mencurigai penguasa telah mengintervensi atau mencampuri urusan pribadi Prabowo yang ingin melaksanakan salat Jumat di Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman).

Ngabalin menegaskan pengurus masjid manapun, termasuk Masjid Kauman, tak bisa diintervensi siapa pun apalagi oleh pemerintah.


"Kalau orang sekelas Fahri mengomentari bahwa mencurigai ada intervensi bagaimana ceritanya? Tidak mungkin. Masa si untuk sekelas itu Pak Presiden Jokowi, istana atau presiden (intervensi), enggak lah. Jadi enggak usah dibawa-bawa itu," kata Ngabalin saat dihubungi lewat sambungan telepon, Kamis (14/2).


Ngabalin mengatakan semua orang bisa melaksanakan ibadah di masjid, baik untuk salat maupun melaksanakan pengajian. Ia mengatkan pengurus masjidlah yang nantinya memberikan izin atau tidak secara independen.

"Mana ada pengurus masjid yang bisa diintervensi penguasa negara. Pengurus masjid itu sangat independen," ujar pria yang juga dikenal sebagai Ketua Umum Badan Kordinasi Mubalig Seluruh Indonesia.

Menyikapi pernyataan Fahri, Ngabalin pun mengaku tak heran tudingan intervensi penguasa itu keluar dari mulut politikus PKS tersebut.

"Kalau bukan Fadli (Fadli Zon) nanti Fahri itu yang ngomong. Atau kalau kucing atau kambing ketabrak di jalan jangan-jangan pemerintah bersekongkol dengan lalu lintas," sindir Ngabalin.


Sebelumnya, Ketua Pengurus Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman), KH Hanief Ismail menyampaikan keberatannya atas rencana Prabowo yang akan melaksanakan salat Jumat di masjid tersebut.

Hanief menilai salat Jumat yang akan dilaksanakan Prabowo bermuatan politis karena ada upaya mobilisasi massa.

"Kami para nadlir atau takmir Masjid Kauman merasa keberatan dengan rencana Jumatan Prabowo. Tolong sampaikan ke Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) agar mengambil tindakan yang perlu sesuai aturan hukum," tutur Hanief dalam keterangan tertulis yang diterima.

Hanief mengatakan pihaknya menilai hal tersebut merujuk pada pengumuman besar-besaran rencana Prabowo salat jumat di masjid tersebut. Ribuan pamflet pun telah disebar seantero Kota Semarang, termasuk ditempel di kampus-kampus dan masjid-masjid.

Pamflet dan narasi undangan untuk ikut salat Jumat bersama Prabowo itu juga telah viral di media sosial sejak Rabu (13/2).

Sikap pengurus Masjid Kauman itu lantas mendapat kritik dari pihak Prabowo, termasuk Fahri Hamzah.

Fahri mencurigai penguasa telah mengintervensi atau mencampuri urusan pribadi Prabowo yant ingin melaksanakan salat Jumat di Masjid Kauman, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (15/2). Menurutn dia, salat Jumat adalah urusan pribadi seseorang dalam beribadah.

"Saya agak curiga bahwa memang kaki tangan kekuasaan itu terlalu jauh untuk intervensi hal-hal yang sifatnya itu pribadi. Orang pergi salat Jumat [itu] peribadatan pribadi," kata Fahri di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Dia pun mencurigai penguasa bermain dalam membatasi ruang Prabowo, calon wakil presiden nomor 02 Sandiaga Uno, serta tim suksesnya untuk bertemu dengan masyarakat. Fahri mengaku mendapatkan informasi bahwa tim Prabowo-Sandi kerap menemui sejumlah masalah dalam masa kampanye Pilpres 2019 ini.

(fra/kid)