Analisis

Ulasan Debat: Siasat Manis Prabowo di Balik Tampilan Kalem

CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 10:48 WIB
Ulasan Debat: Siasat Manis Prabowo di Balik Tampilan Kalem Prabowo Subianto relatif lebih kalem, dan melempar pujian kepada Jokowi di debat capres kedua, Minggu (17/2) malam. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto relatif lebih kalem, kerap menyampaikan pujian terhadap capres petahana Jokowi dalam panggung debat kedua capres, Minggu (17/2) malam. Tensi mantan Danjen Kopassus itu relatif rendah, tampil lunak dan manis.

Salah satu kelunakan Prabowo terekam saat Ketua Umum Partai Gerindra itu memuji capaian Jokowi di bidang lingkungan hidup.

"Saya tentunya selalu mengahrgai kalau ada tindakan-tindakan yang benar-benar melaksanakan fungsi pemerintahan. Ya, saya mengakui kalau demikian prestasi Bapak ya, kita dukung. Karena lingkungan hidup ini adalah masalah kita bersama," ujar Prabowo.


Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menduga Prabowo memang sengaja tidak tampil kritis dan agresif dalam debat semalam. Adi menilai ada siasat yang tengah dimainkan Prabowo dan timsesnya.

"Hampir semua segmen tidak ada serangan maut Prabowo yang dialamatkan kepada Jokowi," tutur Adi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (18/2).

Adi mengatakan Prabowo jelas tampil 'lunak' dalam debat semalam. Tidak seperti biasanya yang akrab dikenal publik tegas, kritis, dan berapi-api kala berbicara soal negara. Menurut Adi, sikap manis itu memang ditunjukkan agar ada perubahan persepsi masyarakat terhadap Prabowo.

"Agar tidak terus-terusan disebut sebagai pemimpin yang pemarah, temperamental, agresif dan otoriter," kata Adi.


Adi mengamini bahwa Prabowo memang sempat mengkritik ketika segmen pembangunan infrastruktur tengah dibicarakan. Namun, lanjut Adi, Prabowo tidak mengkritik lebih dalam. Ketika Jokowi membantah, Prabowo tidak lanjut mengkritik kembali.

"Tidak sepenuh hati. Tidak seperti biasanya," tutur Adi.

Adi mengakui wajar jika Prabowo memang benar-benar ingin melunturkan persepsi pemarah dengan bersikap lunak saat debat. Menurut dia, selama ini Prabowo memang kerap diasosiasikan sebagai orang yang temperamental. Tak sedikit juga yang menyebut Prabowo akan otoriter jika menjadi presiden.

[Gambas:Video CNN]

Akan tetapi, kata Adi, sebenarnya Prabowo bisa melunturkan cap agresif dan temperamental dengan tetap mengkritik Jokowi. Adi mengatakan penyampaian kritik tidak harus dilakukan dengan nada yang tinggi, tetapi dengan irama dan diksi yang elegan. Terpenting, kata dia, ditopang oleh data-data valid yang tak bisa dibantah.

Namun, kata Adi, Prabowo tidak melakukan hal itu. Prabowo seolah hanya ingin bersikap lunak nan manis, padahal bisa mengkritik dengan cara yang berbeda.

"Kalau semalam, Prabowo memang tampil kalem tanpa dibarengi kritik dan data-data. Padahal banyak sekali segmen yang bisa dikapitalisasi untuk menyerang balik," kata Adi.


Adi memprediksi Prabowo dan timsesnya benar-benar memainkan siasat yang berbeda. Tidak agresif meski dalam posisi sebagai penantang. Tujuannya, tidak hanya demi menghilangkan cap pemarah Prabowo, tetapi juga agar dia memantapkan gelarnya sebagai negarawan oleh para pendukung.

"Caranya dengan mengapresiasi capaian lawan. Tetapi bagi kita yang meneliti dan melihat dari jauh, ingin tampil manis. Tidak tampil agresif," kata Adi.

Adi mengatakan strategi Prabowo dan timsesnya yang mengubah gaya debat bisa menarik simpati pemilih baru. Dia menjelaskan bahwa anatomi pemilih di Indonesia dibagi menjadi dua, yakni rasional dan emosional.

[Gambas:Video CNN]

Mereka yang tergolong pemilih rasional, kata Adi, cenderung suka dengan data-data detail yang valid. Sementara kelompok pemilih emosional, tidak sekaku itu.

"Pemilih emosional ini bisa melampaui hal-hal yang sifatnya data. Misalnya retorika, kedewasaan berpikir seperti mengakui kehebatan orang lain. Sepertinya Prabowo dan timsesnya ingin menyasar itu," kata Adi.

Adi tidak bisa menduga terlalu jauh perihal korelasi antara gaya debat Prabowo yang lunak dengan simpati dari pemilih. Dia tidak bisa menyebut seberapa besar kalangan yang bisa terpengaruh dan mulai berpikir untuk memilih Prabowo. Menurut dia, itu hanya bisa diukur melalui hasil survei.

(bmw/ain)