FOTO : Transformasi Orang Rimba Jambi Jadi Orang Kota

Antara Foto,, CNN Indonesia | Kamis, 21/02/2019 16:30 WIB

Jambi, CNN Indonesia -- Salah kelola hutan dan pemberian izin pengelolaan kawasan penyangga secara sembarang telah mengubah rupa orang-orang rimba di Jambi.

Salah kelola hutan dan pemberian izin pengelolaan kawasan penyangga secara sembarang telah mengubah rupa orang-orang rimba di Jambi. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Mereka yang dulunya hidup sejahtera di tengah belantara, kini terpaksa bertransformasi menjadi
Hilangnya hutan telah mengubah cara hidup Orang Rimba. Mereka bertahan hidup dalam keadaan memprihatinkan. Ada yang mengemis, mencuri, dan bekerja sebagai pencari dan pengumpul brondol kelapa sawit sisa atau pinang di kebun-kebun perusahaan dan warga. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Saat ini, sebagian besar Orang Rimba masih tinggal nomaden dengan segala keterbatasan sumber daya dari satu kebun ke kebun lainnya. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Data sensus terbaru yang dilakukan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi dan beberapa lembaga terkait pada 2018 menyebutkan, jumlah total Orang Rimba di Provinsi Jambi saat ini diperkirakan tinggal 5.235 jiwa saja. Mereka menyebar di lima kabupaten sekitar taman nasional dan Jalan Lintas Sumatera. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Sementara sisanya,
Termasuk di dalamnya, kelompok Orang Rimba yang telah memiliki rumah pribadi, rumah cicilan atau rumah permanen bantuan pemerintah. Selain itu,
Mereka yang masih bertahan di hutan seakan terkepung dengan ekspansi kebun sawit. Perumahan Orang Rimba berada di tengah perkebunan kelapa sawit warga di Tabir, Merangin, Jambi. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Antropolog WARSI, Robert Aritonang mengatakan beberapa program pemerintah perlu dikaji ulang dan disesuaikan dengan kondisi terkini di lapangan. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Pemerintah dinilai perlu mengalokasikan lahan dan hutan sebagai penghidupan Orang Rimba ke depan dan terus melakukan pendampingan dan pemberian layanan pendidikan secara berkelanjutan yang disesuaikan dengan budaya dan pemahaman mereka. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)