Minim Mitigasi, Gempa Masih Jadi Monster di Indonesia

CNN Indonesia | Kamis, 21/02/2019 23:55 WIB
Minim Mitigasi, Gempa Masih Jadi Monster di Indonesia Ilustrasi gempa bumi. (Istockphoto/Petrovich9)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan gempa bumi hingga kini masih menjadi momok bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya, kata dia, gempa selalu makan total ribuan korban di sejumlah daerah Indonesia.

"Kita trauma kenapa? Karena (gempa) itu jadi monster menyebabkan meninggal 500, 2500, 6500. Coba lihat gempa 1800-1900-an di Indonesia itu semua persis seperti gempa pada 2018. Enggak ada perubahan," ujar Daryono di Graha BNPB, Jakarta Pusat, Kamis (21/2).

Merujuk pada data BNPB, gempa dan tsunami di menjadi bencana pemakan jiwa terbanyak di Indonesia. Setidaknya, sekitar 3.475 orang meninggal dunia sepanjang 2018 akibat gempa dan tsunami.



Menurutnya, hal itu tetap sama memakan banyak korban jiwa dan meluluhlantakkan bangunan akibat belum adanya mitigasi struktural menyeluruh di Indonesia. Untuk mewujudkan mitigasi tersebut, kata dia, seharusnya melibatkan komitmen dan keseriusan pemerintah beserta masyarakat.

Mitigasi Gempa

Lain halnya di Indonesia, menurut Daryono mitigasi atas gempa bumi lebih bagus dan terstruktur di Jepang dan Selandia Baru. Salah satu indikatornya, kata dia, bangunan rumah atau perkantoran di sana sudah bisa menjadi tempat yang menjamin keselamatan mereka dari gempa bumi.

Menurutnya, hal itu bisa pula dilakukan di Indonesia ketika pemerintah pusat sampai daerah serius dalam menggalakkan program pembangunan rumah antigempa.

Daryono menilai penelitian lembaga kebencanaan dan penggiat bencana tak berdampak maksimal tanpa mitigasi struktural.

"Apa sampai kiamat mau gempa makan ribuan jiwa? Di New Zealand gempa 7 SR itu biasa, rumah paling retak tanpa runtuh. Itu bukti kesungguhan mitigasi struktural menentukan keselamatan. Sehingga ketika bangunan kuat, kokoh, dan bisa melindungi orangnya, gempa itu menjadi suatu hal biasa," tuturnya.

Selain keseriusan pemerintah, masyarakat termasuk pengusaha juga diminta dapat mengenali lingkungannya. Mereka diimbau bisa menjadikan bahaya menjadi peluang seperti yang dilakukan sejumlah hotel di Bali melalui sertifikasi siaga bencana.

"Jangan sampai ada kelompok masyarakat tidak terima daerahnya disebut rawan karena ganggu wisata. Hotel di Bali yang tersertifikasi (siaga bencana) malah dipilih tamu karena ada jaminan. Itu mengubah bahaya menjadi peluang," tuturnya.

Serupa, Ketua Kelompok Kerja Geologi Pusat Studi Gempa Nasional Danny Hilman Natawidjaja mengatakan gempa di Indonesia kerap memakan banyak korban karena banyak wilayah hunian dan bangunan yang terletak di sesar (patahan).

"Banyak perusahaan yang mengabaikan itu. Kan kalau bangunan tinggi sudah ada aturan dan kajiannya terlebih dahulu. Tapi kalau rumah memang belum ada ya (kajian bangunan)," kata Danny.

Menurutnya, memang tak mungkin meminta warga yang tinggal di kawasan sesar untuk pindah. Hal itu bahkan tidak dilakukan di negara-negara rawan gempa bumi seperti Jepang.

Namun, sambung Danny, masyarakat bisa diedukasi secara terus-menerus dalam menghadapi gempa bumi.

Di sisi lain, penelitian juga diperlukan guna membangun sistem peringatan dini yang spesifik menyesuaikan kondisi daerah dan karakter sumber gempa masing-masing. Berdasarkan data BNPB, terdapat 214 sumber gempa baru dan 295 sesar aktif yang tersebar di Jawa (37), Sulawesi (48), Nusa Tenggara dan Laut Banda (49).

(chri/kid)