Bawaslu Kaji Dugaan Pelanggaran Pemilu di Malam Munajat 212

CNN Indonesia | Jumat, 22/02/2019 13:11 WIB
Bawaslu tak menutup kemungkinan akan memanggil sejumlah tokoh terkait seperti Fadli Zon dan Zulkifli Hasan yang menyampaikan orasi. Umat Islam melakukan kegiatan salawat dan zikir nasional / Aksi Malam Munajat 212 di Monas, Jakarta, 21 Februari 2019. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengkaji adanya dugaan pelanggaran pidana pemilu dalam gelaran Malam Munajat 212 yang digelar di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Kamis (22/2).

Langkah itu diambil menyusul beberapa tokoh politik berorasi dalam acara tersebut. Beberapa kalangan mempermasalahkannya karena diduga melakukan kampanye rapat terbuka yang menurut aturan baru boleh dilaksanakan pada 24 Maret-13 April mendatang

Anggota Bawaslu Rahmat Bagja mengatakan saat ini pihaknya masih mengkaji temuan-temuan di lapangan.


"Kita masih lihat teman-teman Bawaslu DKI masih membahasnya," kata Bagja saat dihubungi, Jumat (22/2).


Bagja menjelaskan kasus ini ditangani Bawaslu DKI karena tempat kejadian berada di wilayah ibu kota Republik Indonesia tersebut. Selain itu, Bawaslu DKI menerjunkan personel untuk mengawasi acara tersebut.

Dia belum mau melakukan penilaian terhadap potensi pelanggaran Malam Munajat 212. Bawaslu DKI, tegasnya, masih membutuhkan waktu mengkaji.

"Sepertinya poin-poinnya banyak, terutama pengawasan di panggung, supaya tidak terjadi hal-hal yang dilarang," kata dia.

Bagja tidak menutup kemungkinan Bawaslu DKI akan memanggil pihak-pihak terkait, seperti Fadli Zon dan Zulkifli Hasan yang menyampaikan orasi.

"Tergantung dari hasil pengawasan Bawaslu DKI ya, kita tunggu," kata dia.


Desakan untuk Bawaslu bergerak juga disampaikan kubu pendukung capres nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin. Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN), Ace Hasan Syadzily, mengatakan muatan kampanye jelas-jelas terlihat pada gelaran Malam Munajat 212 semalam.

Ace menuturkan acara Munajat 212 yang sejatinya keagamaan untuk mendoakan bangsa merupakan hal positif. Namun, kebaikan itu tidak terlaksana sesuai rencana karena dipergunakan sebagai momentum untuk menyampaikan pesan-pesan politik.

"Patut diduga acara itu merupakan bagian dari politisasi agama dan kampanye politik," ujarnya, Jumat (22/2).

Sebelumnya, dalam gelaran Malam Munajat 212 beberapa tokoh politik dari kubu Prabowo-Sandi melakukan orasi politik. Fadli Zon misalnya, mengacungkan pose dua jari, simbol dukungan terhadap Prabowo-Sandiaga Uno. Fadli juga menggiring massa untuk meneriakkan ganti presiden.


Tokoh politik yang juga jelas menunjukkan pose dua jari ala pendukung Prabowo adalah Siti Hediyati Haryadi atau Titiek Soeharto. Pemandangan itu sudah diberitakan sejumlah media massa.

Begitu pula Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN yang sempat mengajak massa untuk meneriakkan nomor dua saat ia menyebut kata 'presiden'.

"Pemilihan menentukan nasib kita, nasib Indonesia. Persatuan nomor 1, soal Presiden?," kata Ketua MPR RI itu.

Massa pun menyambut dengan teriakan, "Nomor 2!". Pertanyaan Zulhasan itu dilakukan hingga tiga kali saat acara.

[Gambas:Video CNN]


(dhf/ain)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK