Ombudsman Sebut Impor Jagung Turun, Petani Tetap Terganggu

CNN Indonesia | Jumat, 22/02/2019 06:11 WIB
Ombudsman Sebut Impor Jagung Turun, Petani Tetap Terganggu Anggota Ombudsman RI Alamsyah Saragih mengklaim ada penurunan permintaan jagung untuk pakan. (CNN Indonesia/Ciputri Hutabarat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ombudsman Republik Indonesia menyebut klaim calon presiden Joko Widodo dalam debat kedua PIlpres 2019 soal penurunan impor jagung harus dikritisi. Sebab, penurunan impor tak selalu berarti keuntungan bagi petani.

Pasalnya, kata Anggota Ombudsman Alamsyah Saragih jagung bisa digantikan oleh gandum sebagai pakan ternak. Sementara, aku dia, ada penurunan permintaan jagung untuk kebutuhan pakan.

"Memang kalau pakai gandum, petani jagung seolah-olah tidak terganggu, karena tidak ada petani yang menanam gandum. Tapi kan persoalannya kebutuhan industri pakan permintaan jagung berkurang, kan sama saja produksi petani [jagung] kita terganggu. Itu karena disubstitusi [oleh gandum]," papar dia, di kantor Ombudsman, Kamis (21/2).

Namun demikian, Alamsyah tak memaparkan data soal jumlah jagung yang disubstitusi oleh gandum yang diimpor, ataupun jumlah penurunan permintaan jagung untuk pakan itu.

Pada debat capres kedua, 17 Februari, Jokowi mengklaim pemerintah berhasil menurunkan impor jagung dari 3,5 juta ton pada 2015 menjadi 180 ribu ton pada 2018. Artinya, kata dia, ada produksi 3,3 juta oleh petani.

Meski tidak membantah bahwa terdapat kenaikan produksi jagung di dalam negeri, Alamsyah menilai pernyataan Jokowi itu mengkhawatirkan. Sebab, ia tidak memberikan informasi yang utuh.

"Menurut saya itu bukan informasi yang pas untuk disampaikan ke publik. Apalagi itu bisa menyebabkan kita tidak mawas diri dan tiba-tiba bisa merugikan apabila sebuah data dimanipulasi dan menyebabkan masalah dalam keputusan itu bisa merugikan ke publik," jelas Alamsyah.

"Maka Ombudsman memutuskan untuk mendalami apakah ini lebih banyak terjadi karena substitusi dari jagung kepada gandum," kata Alamsyah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor jagung secara keseluruhan, meliputi jagung pangan dan pakan (ternak), pada 2014 sebesar 3,25 juta ton; tahun 2015 sebesar 3,26 juta ton.

Setelah pemerintah membatasi impor jagung, total impor lantas merosot menjadi 1,52 juta ton pada tahun 2016. Impor jagung menukik pada 2017 menjadi 517,49 ribu ton. Sepanjang 2018, tren impor jagung kembali merangkak naik menjadi 737,22 ribu ton.


(bin/arh)