Polisi Ringkus Tujuh Tersangka Penipuan Jual Beli Rumah Mewah

CNN Indonesia | Kamis, 13/02/2020 04:05 WIB
Polisi Ringkus Tujuh Tersangka Penipuan Jual Beli Rumah Mewah Ilustrasi penipuan. (Foto: Istockphoto/skynesher)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi meringkus tujuh tersangka kasus penipuan jual beli rumah mewah bermodus notaris palsu di wilayah Jakarta. Ketujuh tersangka yakni Dedi Rusmanto, Raden Handi, Arnold Yosep, Henry Primariady, Siti Djubaedah, Bugi Martono, Dimas Okgi Saputra, dan Denny Elza.

Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana mengatakan pengungkapan kasus itu bermula dari laporan salah satu korhan bernama Indra Hosein di akhir tahun 2019 lalu. Dalam laporannya, korban menyebut bahwa sertifikat tanahnya digadaikan kepada seorang rentenir.

Korban sendiri memang berniat menjual rumahnya yang rumahnya yang berlokasi di Jakarta Selatan dengan harga Rp70 miliar pada tersangka Diah.


Tersangka Diah lantas mengajak korban untuk mengecek keaslian sertifikat tanahnya ke notaris Idham. Namun, Idham adalah notaris palsu yang sengaja disiapkan oleh tersangka.

Di sana ada tersangka Raden Handi yang mengaku sebagai notaris Idham. Di kantor notaris IDham, korban memberikan fotokopi (sertifikat) untuk dicek di (kantor) Badan Pertahanan Nasional (BPN) Jakarta Selatan," kata Nana di Hotel Mercure, Jakarta Pusat, Rabu (12/2).

Saat itu, korban hanya diwakili oleh temannya yakni Lutfi. Ia kemudian ditemani tersangka Dedi Rusmanto untuk mendatangi kantor BPN Jaksel.

[Gambas:Video CNN]

Selanjutnya, Dedi menukar sertifikat asli itu dengan sertifikat palsu tanpa sepengetahuan teman korban. Dari aksinya itu, Dedi diketahui mendapat upah sebesar Rp30 juta.

Sertifikat asli itu kemudian diserahkan ke tersangka Dimas Okgi dan Ayu. Keduanya lantas menemui seorang rentenir untuk menggadaikan sertifikat tanah tersebut senilai Rp11 miliar.

"Uang sebesar Rp 11 miliar ditransfer ke rekening bank Danamon dan ditarik tunai untuk diserahkan ke tersangka Arnold dan Neneng," tutur Nana.

Disampaikan Nana, korban baru menyadari bahwa sertifikatnya telah dipalsukan saat ada calon pembeli rumahnya.

"Ketika ada orang yang mau membeli rumahnya, kemudian BPN menyatakan dokumen sertifikatnya palsu," ujarnya.

Nana mengungkapkan kerugian atas kasus penipuan itu ditaksir mencapai Rp85 miliar. "Kerugian sekitar Rp 85 miliar," katanya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 264 KUHP Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke (1) KUHP dan atau pasal 3, 4, dan 5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. (dis)