"Yang ditangkap itu soal olok-olok antara para pemilih, besar dugaan saya yang ditunggu bukan soal apa yang mereka omongkan tapi siapa yang salah ngomong," kata Ray dalam disukusi di Jakarta, Kamis (14/3).
Menurutnya, gelar debat tidak akan memiliki implikasi serius terhadap suara. Jangankan wakil presiden, kata dia, debat presiden pun tidak memiliki implikasi suara yang signifikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ray rangkuti, tengah. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) |
Joko Widodo-Ma'ruf Amin masih unggul dengan perolehan suara 54,8 persen daati Prabowo Subianto - Sandiaga Uno yang mendapat suara 31,0 persen.
Menurut Ray, tidak signifikannya pengaruh debat terhadap suara paslon lantaran polarisasi pemilih yang sudah sangat kuat. Visi-misi dari kedua calon di debat nanti tidak akan berpengaruh mengubah persepsi pemilih yang sudah fanatik.
Senada, Peneliti Populi Center Hartanto Rosojati mengatakan debat masih belum bisa mengangkat suara kedua paslon. Hartanto menilai, debat nanti hanya akan menjadi tontonan semata.
"Debat publik belum memberikan dampak. Kalau dihitung pun hanya 2 persen sampai 3 persen (pengaruh debat terhadap elektabilitas). Ini pun (pengaruh debat terhadap elektabilitas) tidak langsung terjadi setelah debat," ujarnya.
Diketahui, debat cawapres akan dilangsungkan pada Minggu (17/3) mendatang. Debat ini akan mengangkat tema mengenai pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan, dan sosial budaya.
[Gambas:Video CNN] (sah/ain)
Ray rangkuti, tengah. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)