ANALISIS

Debat Cawapres, Pertarungan Gaet Pemilih Galau

CNN Indonesia | Minggu, 17/03/2019 16:30 WIB
Debat Cawapres, Pertarungan Gaet Pemilih Galau Debat cawapres antara Sandiaga Uno dan Ma'ruf Amin diyakini tetap memengaruhi elektabilitas masing-masing paslon di Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Debat cawapres pada 17 Maret nanti diyakini memengaruhi elektabilitas masing-masing calon dalam Pilpres 2019. Sosok Ma'ruf Amin sebagai cawapres Joko Widodo maupun Sandiaga Uno sebagai cawapres Prabowo Subianto dinilai akan menjadi pertimbangan bagi pemilih untuk melihat proyeksi pemerintahan ke depan.

Pengamat politik dari Populi Center Rafif Pamenang Imawan mengatakan sejumlah hasil survei menunjukkan bahwa sosok wapres memang tak memiliki pengaruh elektoral yang cukup signifikan. Bahkan dari hasil survei Populi Center pada Februari 2019, sebanyak 46,4 persen memilih salah satu paslon karena alasan menyukai figur capres.

"Meski hasil survei berbagai lembaga banyak menunjuk sosok wapres tidak besar pengaruh elektoralnya, tetap saja konstruksi masyarakat patut diperhatikan bahwa sosok wakil merupakan sosok pelengkap atau penyimbang dari sosok presiden," ujar Rafif kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/3).


Hal ini serupa dengan konsep dwi tunggal Presiden RI pertama Soekarno dengan wakilnya Mohammad Hatta atau kombinasi pasangan Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono dengan Jusuf Kalla maupun saat dengan Boediono.

Rafif mengatakan debat yang mengangkat isu pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya ini justru menjadi peluang bagi masing-masing calon untuk menarik perhatian pemilih yang belum memutuskan pilihannya atau undecided voters.

Merujuk dari hasil survei Populi, jumlah undecided voters hingga Januari 2019 masih cukup kuat di angka 14 persen. Jumlah ini tak berubah sejak Agustus 2018.

"Artinya, kampanye yang dilakukan sejauh ini belum bisa memberikan tawaran menarik bagi undecided untuk memilih dalam pemilu. Pada konteks inilah, debat cawapres benar-benar menjadi pintu untuk menggoyah para undecided voters," katanya.

Rafif meyakini debat cawapres nantinya akan menjadi 'pertunjukan' yang menarik mengingat karakter dan gap usia antara Ma'ruf dengan Sandi yang cukup jauh. Apalagi, keduanya selama ini memiliki latar belakang berbeda. Ma'ruf sebagai ulama sementara Sandi sebagai pengusaha.

Para pemilih, menurut Rafif, akan memiliki ekspektasi yang berbeda pula pada masing-masing cawapres. Pada Ma'ruf misalnya, pemilih akan mempertimbangkan kemampuan Ketua Umum MUI itu dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terus berubah.

"Ada tuntutan untuk melihat bagaimana sikap Ma'ruf terhadap perubahan yang lebih cepat di era saat ini. Apakah akan adaptif atau justru menjadi kaku," ucap Rafif.


Ma'ruf sendiri diprediksi akan dominan membicarakan isu pendidikan, sosial, hingga kebudayaan. Rafif mengatakan isu-isu tersebut merupakan salah satu yang 'dekat' dengan Ma'ruf karena posisinya sebagai ulama. Hal ini tak lepas dari keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang secara tak langsung juga bersinggungan dengan persoalan sosial maupun kebudayaan.

Sementara bagi Sandi, pemilih juga akan mempertimbangkan bagaimana mantan Wagub DKI itu menguasai hal-hal teknis atau isu spesifik dari tema yang akan dibawakan saat sesi debat.

"Publik tentu masih ingat bagaimana konsep OK OCE yang berjalan di awal dan sekarang banyak gulung tikar karena minim rencana berkelanjutan. Ini jadi tantangan tersendiri," tuturnya.

Seperti yang selama ini dilakukan, Sandiaga juga diprediksi akan lebih dominan membicarakan isu tenaga kerja dan kesehatan. Kedua isu ini dianggap menjadi isu paling mudah untuk dikaitkan dengan solusi yang kerap ditawarkan Sandi.

"Di dua isu ini, seharusnya Sandi lebih dapat mengeksplorasi berbagai solusi yang selama ini dianggap masalah laten, seperti persoalan kontrak buruh," ucapnya.

Gunakan Ayat

Pengamat politik Indonesian Politician Review (IPR) Ujang Komaruddin memprediksi Ma'ruf akan banyak menggunakan ayat saat debat cawapres.

Menurut dia, penggunaan ayat-ayat ini menjadi spesialisasi Ma'ruf yang diyakini memperkuat argumentasi dari mantan Rais Aam PBNU itu saat debat.

"Itu tidak salah, apalagi pemilih Indonesia mayoritas Islam, perlu juga diberi argumentasi yang sifatnya dalil agama," katanya.

Sandi yang berlatar belakang pengusaha, dinilai Ujang akan banyak mengeluarkan argumen tentang kewirausahaan.

Sementara untuk mengimbangi Ma'ruf yang berlatarbelakang ulama, Sandi diprediksi juga akan melakukan pendekatan agama dalam program yang ditawarkan.

"Misalnya membangun wirausaha muda dari kalangan santri. Ma'ruf pun akan banyak menjelaskan bagaimana membangun ekonomi syariah di pesantren, atau tentang konsep halal, itu yang harus dieksplorasi," kata dia.

Pengajar di Universitas Al Azhar ini mengatakan performa masing-masing cawapres dalam sesi debat akan tetap berpengaruh pada tingkat elektabilitas dalam Pilpres 2019. Apalagi tema yang diangkat dalam debat termasuk isu krusial yang dekat dengan keseharian masyarakat.

"Kesannya memang cawapres tak begitu menarik karena dianggap ban serep atau pelengkap capresnya. Tapi mereka kan sepaket dan tema yang diangkat itu tema penting," tutur Ujang.

Sesi debat tersebut, lanjut Ujang, justru dapat menjadi daya tarik bagi para pemilih. Khususnya di kalangan undecided voters.

"Itu isu penting. Jangan sampai tema ini direduksi hanya karena cawapres yang debat. Harusnya tema yang baik ini juga membuat debat mereka berjalan lebih baik dari debat capres," katanya. (psp/wis)