Pada survey sebelumnya, Desember 2018, pemilih yang belum memutuskan mencapai 10,6 persen. Sementara, pada survei terbaru jumlah pemilih ini meningkat menjadi 11,4 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, banyak alasan kenapa para pemilih muda masih belum menentukan pilihannya. Pertama, bisa jadi karena mereka tidak terlalu aktif mengikuti berita-berita politik. Kedua, mereka cenderung apatis terhadap proses-proses politik. Ketiga, pengetahuan mereka terkait politik tidak terlalu besar.
Hasanuddin Ali, Pendiri dan CEO Alvara Research Center. (CNN Indonesia/Fachri Fachrudin) |
"Kedua kandidat harus mewaspadai fenomena Golput dan kejenuhan psikologis pemilih menjelang tahap-tahap akhir masa kampanye Pemilu 2019," ujarnya.
Jenis golput yang harus diwaspadai, lanjut Hasan, yaitu golput ideologis, golput teknikal, serta golput apatis.
"Dan terakhir golput apatis, artinya orang yang tidak peduli dengan adanya pemilu atau tidak," Hasan menambahkan.
Lebih lanjut, Hasan juga mengatakan bahwa kemenangan kandidat Capres 2019 akan sangat ditentukan oleh perebutan suara diceruk pemilih Jawa dan Sumatera, pemilih muda, pemilih kelas menengah dan pemilih muslim. Sehingga, elektabiltas pada ceruk tersebut yang perlu diperhatikan.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
Sementara elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin masih unggul dengan angka 40,4 persen, atas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang meraih 25,8 persen suara.
[Gambas:Video CNN] (sas/arh)
Hasanuddin Ali, Pendiri dan CEO Alvara Research Center. (
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen