10 Years Challenge, Siasat Komunikasi Ma'ruf dengan Milenial

CNN Indonesia | Senin, 18/03/2019 12:34 WIB
10 Years Challenge, Siasat Komunikasi Ma'ruf dengan Milenial Istilah 10 Years Challenge dan DUDI dianggap sebagai strategi Ma'ruf yang berupaya mengubah citra 'tua' sekaligus memudahkan pemilih muda mengingat gagasannya. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon wakil presiden 01 Ma'ruf Amin melontarkan dua istilah, yakni DUDI dan 10 Years Challenge ketika berdebat dengan cawapres 02 Sandiaga Uno dalam debat cawapres Pilpres 2019, Minggu (17/3).

Istilah DUDI diucapkan Ma'ruf saat mengulas gagasannya tentang dana riset yang ditanyakan oleh Sandiaga. DUDI merupakan istilah Dunia Usaha-Dunia Digital. Sementara #10YearsChallenge, disampaikan ketika membicarakan soal ketenagakerjaan.

Pengamat politik Universitas Padjajaran Firman Manan menilai Ma'ruf tidak sedang berupaya mengubah citra 'tua' yang melekat pada dirinya lewat penggunaan istilah DUDI dan #10YearsChallenge. Menurutnya, Ma'ruf hanya memudahkan pemilih untuk mengingat gagasannya lewat istilah tersebut.


"Dua istilah itu lebih kepada upaya menanamkan agar pemilih itu, ya termasuk pemilih milenial, bisa dengan mudah melakukan recall, mengingat kembali apa sih gagasan Kiai Ma'ruf," ujar Firman kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/3).

Firman menuturkan penggunaan istilah untuk sebuah gagasan lebih mudah diingat ketimbang panjang lebar disampaikan. Gagasan yang sulit diingat, kata dia, juga tidak akan direspon positif oleh pemilih.

Terkait gagasan ketenagakerjaan dengan mengaitkan istilah #10YearsChallenge, Firman menilai hal itu bisa menarik perhatian pemilih milenial. Sebab, istilah #10YearsChallenge populer dikalangan milenial meskti tidak ada hubungannya dengan soal pendidikan atau riset.

"Jadi saya pikir strategi yang relatif baik juga. Itu kan cara menyampaikan pesan, gagasan, ide agar mudah diingat," ujar Firman.

Firman menilai Ma'ruf secara umum lebih unggul dalam debat melawan Sandi. Ia melihat Ma'ruf tidak hanya memperlihatkan dirinya sebagai ulama, melainkan sebagai calon pemimpin yang memiliki pemahaman, gagasan, dan kemampuan berkomunikasi yang baik.

"Kalau Sandiaga Uno kita sudah kenal, relatif memang seperti itu. sehingga kalau melihat itu, Kiai Ma'ruf sedikit lebih unggul dibanding Sandiaga Uno," ujarnya.

Senada, Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun mengatakan Ma'ruf berhasil membantah persepsi orang yang menilainya tua. Pertama, ia melihat Ma'ruf mampu tampil prima selama beberapa jam berdebat dengan Sandiaga yang usianya jauh lebih muda.

"Kedua, beliau ingin menunjukkan memang betul orang tua, tatapi yang bisa diterima olah anak muda. Makanya dia banyak menggunakan istilah DUDI dan #10YearsChallenge," ujar Rico kepada CNNIndonesia.com.

Meski tampil di luar dugaan, ia mengatakan Ma'ruf tidak bisa dinilai unggul secara umum dalam debat cawapres. Sebab, ia melihat Sandiaga lebih baik dalam mempresentasikan gagasannya ketimbang Ma'ruf.

Ia melihat Sandi lebih demonstratif dalam presentasi, salah satunya ketika membantah kartu sakti baru Joko Widodo. Sandi tidak hanya menekankan kata-kata sebagaimana yang dilakukan Ma'ruf.

"Kiai Ma'ruf ini kekuatan pilihan kata dan diksinya seperti menggunakan kalimat bahasa arab, mengutip hadist, kaidah fiqih itu kan kuat sekali dia lebih memilih menggunakan kata-kata," ujarnya.

"Jadi kalau presentasi Sandi lebih unggul. Tapi bisa jadi cara orang menilai Kiai Ma'ruf ini berbeda karena melihat dia sudah sepuh tapi mampu manandingi (Sandi)," ujar Rico menambahkan.
(jps/gil)