"Ternyata setelah kami konfirmasi ke KPU masih ada tidak jelas. Saya mengistilahkan amburadul," kata Taufik di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya, di TPS 104 RT 15 RW 07 Cilandak. Masa jumlah pemilih cuma satu orang. Warga yang lain ke mana? Belum lagi, ada jumlah RW 22, padahal di situ RW-nya hanya 11. Dugaan saya, ini menjurus kecurangan," ujar Taufik.
Ilustrasi pengecekan DPT. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
"Kami sudah menyisir terus-menerus dan kami akan petakan. Kalau satu RT cuma 1 (DPT) berarti ada yang hilang. Ini ada penghilangan hak pilih warga negara, ini hukuman pidana ini," kata dia.
Dia, yang juga Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta, pun kemudian meminta KPU segera menyelesaikan persoalan DPT yang amburadul itu.
Sebab kata dia, hal ini mesti dilakukan demi menghindari potensi kecurangan dalam pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan di Indonesia.
"Saya minta KPU secara berjenjang merapikan ini. Tak ada alasan waktu. KPU fokus saja perbaiki data pemilih. Tidak mungkin satu RT pemilihnya satu orang atau 4 orang. Kami sudah telusuri. Saya meyakini, ini jumlahnya masih ribuan. Kami juga sudah menghubungi KPU," kata dia.
Anggota Bawaslu Rahmat Bagja. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho) |
Menurutnya, hal ini bisa terjadi lantaran ada kesalahan prosedur di KPU saat pencocokan dan penelitian (coklit).
"Ada satu kesimpulan ini karena ada kesalahan prosedur saat coklit atau verifikasi di lapangan," kata Bagja.
(tst/arh)
Ilustrasi pengecekan DPT. (
Anggota Bawaslu Rahmat Bagja. (