Kebakaran terjadi sekitar pukul 05.30 WIB. Api tiba-tiba terlihat sudah berkobar di dalam rumah dan langsung menjalar ke seluruh bangunan.
"Saya dengar dari warga yang teriak-teriak kebakaran. Saya kira Kelenteng Tay Kak Sie, tapi ternyata rumah abu yang ada di sebelahnya. Api sudah besar berkobar", ujar Yuni, salah seorang warga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas pemadam kebakaran akhirnya menemukan jasad Om Lhe setelah melakukan penyisiran ketika api sudah bisa dipadamkan.
Petugas pemadam kebakaran berada di sisa rumah abu dan Balai Pengobatan Tjie Lam Tjay, Semarang, yang terbakar pada Kamis (21/3). (CNN Indonesia/Damar Sinuko) |
Rumah abu itu biasa digunakan sebagai tempat penghormatan orang meninggal yang telah dikremasi. Biasanya abu jenazah disimpan di sebuah pasu, yakni guci untuk menyimpan sisa kremasi almarhum.
Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, yang berdiri pada 1746 awalnya untuk memuja Dewi Welas Asih, Kwan Sie Im Po Sat. Pada perkembangannya rumah ibadah itu menjadi kelenteng besar yang juga untuk memuja berbagai dewa-dewi Tao.
